Media Pendidikan – 30 April 2026 | JAKARTA, JPNN.com – Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memaparkan sejumlah kemungkinan teknis yang dapat membuat taksi listrik mengalami mogok mendadak khususnya ketika melintasi rel kereta api. Penjelasan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara yang menyoroti tantangan operasional kendaraan listrik di jaringan transportasi perkotaan.
Berikut beberapa kemungkinan teknis yang diidentifikasi oleh pakar tersebut:
- Gangguan pada sistem kelistrikan – Kabel utama atau konektor yang terpapar getaran rel dapat mengalami keausan, mengakibatkan putus arus secara mendadak.
- Interferensi elektromagnetik (EMI) – Medan magnetik yang kuat di sekitar jalur rel berpotensi mengganggu sensor dan modul kontrol kendaraan listrik.
- Kerusakan sensor deteksi rel – Sensor yang berfungsi memantau kondisi permukaan atau kedekatan dengan rel dapat memberikan sinyal keliru, memicu pemutusan daya untuk alasan keamanan.
- Pengaruh suhu ekstrem – Pada malam hari suhu turun drastis di area rel, baterai atau sistem pendingin dapat menurunkan performa secara tiba‑tiba.
- Masalah perangkat lunak – Algoritma manajemen energi yang tidak terkalibrasi untuk kondisi lintasan rel dapat memicu pemotongan tenaga secara otomatis.
Pasaribu menambahkan bahwa sebagian besar insiden terjadi pada jam-jam sibuk ketika taksi listrik beroperasi secara intensif, sehingga peluang kerusakan komponen meningkat. Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara produsen kendaraan, otoritas transportasi, dan pengelola jaringan kereta api untuk melakukan audit teknis menyeluruh.
Data internal JPNN mencatat bahwa dalam beberapa bulan terakhir terdapat peningkatan laporan mogok taksi listrik di beberapa titik lintasan rel utama Jakarta. Meskipun belum ada angka pasti yang dipublikasikan, tren ini mendorong kebutuhan akan standar keamanan yang lebih ketat.
Sebagai langkah mitigasi, Pasaribu merekomendasikan inspeksi rutin pada komponen kelistrikan, penyesuaian perangkat lunak manajemen energi, serta pengujian kompatibilitas elektromagnetik sebelum kendaraan diizinkan beroperasi di dekat rel. Ia menutup dengan harapan bahwa “dengan penelitian lebih mendalam dan regulasi yang tepat, taksi listrik dapat beroperasi aman tanpa mengganggu kelancaran transportasi kereta api.”
Pengembangan kebijakan dan standar teknis diharapkan dapat menurunkan risiko mogok mendadak, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik sebagai alternatif ramah lingkungan di kota-kota besar.


Komentar