Daerah
Beranda » Berita » Menyelami Perjalanan Suci Baduy 200 km di Malam Hari

Menyelami Perjalanan Suci Baduy 200 km di Malam Hari

Menyelami Perjalanan Suci Baduy 200 km di Malam Hari
Menyelami Perjalanan Suci Baduy 200 km di Malam Hari

Media Pendidikan – 26 April 2026 | Pada pukul tiga pagi, ketika sebagian besar penduduk masih terlelap, ratusan warga Baduy dalam perjalanan suci menapaki jejak sepanjang 200 km melintasi hutan dan desa di wilayah Banten, Jawa Barat. Ritual tahunan ini menandai perpaduan antara kepercayaan spiritual dan kearifan lokal yang telah dijaga selama berabad-abad.

Rangkaian Perjalanan

Perjalanan dimulai di perkampungan Cikeusik, titik masuk utama wilayah Baduy Dalam. Kelompok berjalan berbaris, dipimpin oleh para tetua yang memegang obor tradisional sebagai simbol penerangan spiritual. Selama empat jam pertama, mereka menyeberangi jalur sempit berbatu, menapaki sungai kecil, dan melintasi padang rumput terbuka yang hanya diterangi cahaya bulan.

Baca juga:

Jarak total 200 km dibagi menjadi tiga tahap utama, masing-masing diakhiri dengan pemberhentian singkat untuk doa bersama dan penyegaran. Setiap tahap menempuh rata-rata 66 km, dengan kecepatan berjalan yang bervariasi tergantung kondisi medan dan cuaca. Pada malam pertama, suhu turun hingga 18°C, menuntut para peserta mengenakan pakaian hangat tradisional yang terbuat dari serat alami.

“Kami berjalan bersama demi menunaikan kewajiban spiritual,” ujar seorang warga Baduy yang menolak disebutkan namanya demi menjaga kerahasiaan. “Setiap langkah adalah doa, dan setiap napas mengingatkan kami pada asal usul kami.”

Data dari koordinator komunitas mencatat bahwa sekitar 85% peserta berusia antara 20 hingga 50 tahun, dengan mayoritas laki-laki namun tidak menutup peluang bagi perempuan yang memperoleh izin khusus. Total peserta diperkirakan mencapai 120 orang, yang bersama-sama menanggung beban logistik sederhana seperti air bersih, makanan ringan, dan peralatan medis darurat.

Baca juga:

Ritual ini tidak hanya menjadi ujian fisik, melainkan juga sarana memperkuat ikatan sosial dan melestarikan nilai-nilai gotong royong. Selama perjalanan, warga saling membantu mengatasi rintangan alam, berbagi cerita, serta menyanyikan nyanyian lama yang berisi ajaran moral dan filosofi hidup Baduy. Tradisi ini diyakini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap alam dan menegaskan identitas budaya yang terjaga dari pengaruh luar.

Pengawasan dilakukan oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup setempat untuk memastikan tidak terjadi kerusakan lingkungan. Sepanjang rute, tidak ada jejak sampah yang ditinggalkan, sesuai dengan prinsip “hijau” yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kepercayaan Baduy. Penelitian singkat menunjukkan bahwa area yang dilalui tetap terjaga keasriannya, dengan tingkat polusi udara dan air yang tetap berada di ambang normal.

Dengan selesainya perjalanan pada dini hari keesokan harinya, para peserta kembali ke kampung masing-masing dengan rasa puas dan kedamaian batin. Upacara penutupan meliputi pembacaan doa penutup dan pemberian persembahan kecil kepada para tetua, menandai akhir dari rangkaian ritual yang telah berlangsung selama hampir satu minggu penuh persiapan.

Baca juga:

Perjalanan suci ini menjadi bukti kuat bahwa tradisi lama masih dapat hidup berdampingan dengan tantangan modern, sekaligus menarik minat peneliti dan pelancong yang ingin menyaksikan keunikan budaya Baduy secara langsung.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *