Media Pendidikan – 30 April 2026 | Pada 30 April 2026, Menteri Koordinator Penanaman Modal, Perdagangan, dan Perindustrian (PPPA), Arifah Fauzi, secara resmi menyampaikan permintaan maaf setelah usulnya untuk memindahkan gerbong khusus wanita di kereta komuter (KRL) ke posisi tengah menimbulkan sorotan publik.
Usulan tersebut menempatkan gerbong wanita di bagian tengah kereta, sementara gerbong pria dipindahkan ke bagian belakang. Ide itu pertama kali muncul dalam sebuah wawancara, namun segera menuai kritik tajam dari pengguna KRL, aktivis gender, serta sejumlah pihak yang menilai kebijakan tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengurangi rasa aman penumpang wanita.
Dalam konferensi pers singkat di kantor Kementerian PPPA, Arifah Fauzi mengakui bahwa pernyataannya kurang mempertimbangkan sensitivitas penumpang. “Saya minta maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kontroversi,” ujarnya. “Tidak ada maksud untuk menyinggung atau merugikan siapa pun, dan saya akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan gagasan di masa mendatang,” tambahnya.
Reaksi masyarakat muncul dengan cepat di media sosial, di mana ribuan pengguna menanggapi secara kritis. Banyak yang menilai usulan tersebut tidak realistis dan mengabaikan fakta bahwa gerbong khusus wanita selama ini telah menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang perempuan di jaringan KRL Jakarta.
Permintaan maaf Menteri PPPA menjadi langkah awal untuk meredam ketegangan. Pemerintah berjanji akan meninjau kembali semua usulan kebijakan transportasi publik dengan melibatkan stakeholder terkait, termasuk perwakilan pengguna KRL, sebelum mengeluarkan rekomendasi lebih lanjut.


Komentar