Media Pendidikan – 04 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, secara mendadak meminta Kepala Staf Angkatan Darat (AD) ke-41, Jenderal Randy A. George, untuk mengundurkan diri atau pensiun. Keputusan ini diumumkan melalui juru bicara Pentagon, Sean Parnell, di platform X pada Kamis malam, dan dikonfirmasi oleh CBS News serta detikNews pada hari berikutnya.
Pengunduran diri George terjadi satu hari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pidato yang menegaskan intensifikasi operasi militer terhadap Iran. Pidato tersebut menimbulkan ketegangan politik dan militer di Washington, memaksa Hegseth mengambil langkah cepat untuk menyesuaikan kepemimpinan Angkatan Darat dengan arah kebijakan baru. Dalam pernyataannya, Pentagon mengucapkan terima kasih atas puluhan tahun pengabdian George kepada bangsa Amerika, tanpa menjelaskan alasan rinci di balik pemecatan.
Latar Belakang Karier Jenderal Randy George
Jenderal Randy George menempuh karier militer selama lebih dari tiga dekade. Ia lulus dari Akademi Militer Amerika Serikat di West Point pada tahun 1988 dan memulai kariernya sebagai perwira infanteri. Sebelum ditunjuk sebagai Kepala Staf AD pada September 2023, George memimpin I Corps di Joint Base Lewis‑McChord serta menjabat sebagai Asisten Militer Senior bagi Menteri Pertahanan Lloyd Austin pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Selama masa jabatannya, ia dikenal mengedepankan efisiensi operasional, memperkenalkan drone pencegat rudal berbiaya rendah, serta mengintegrasikan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan.
Penggantian dan Kontroversi Internal
Selain pencopotan George, Hegseth juga memecat dua jenderal senior Angkatan Darat pada hari yang sama: Kepala Pendeta Militer, Mayjen William Green Jr, dan Komandan Komando Transformasi serta Pelatihan AD, Jenderal David Hodne. Pengumuman tersebut mengejutkan jajaran senior militer, yang menyatakan keputusan tersebut terasa terburu‑buruan dan memberikan ruang sangat kecil untuk penolakan.
Spekulasi segera muncul mengenai pengganti George. Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Chris LaNeve, yang sebelumnya menjabat sebagai komandan I Corps dan pernah memimpin pasukan di Korea Selatan, diprediksi akan menjabat sebagai pelaksana tugas Kepala Staf AD. LaNeve, lulusan ROTC Universitas Arizona pada tahun 1990, pernah menjadi komandan Divisi Lintas Udara ke‑82 di Fort Bragg dan mendapatkan pujian langsung dari Presiden Trump dalam panggilan video pada acara Commander in Chief’s Ball.
Isu Promosi dan Tuduhan Bias
Laporan The New York Times menyoroti ketegangan antara George dan Hegseth terkait keputusan Hegseth menolak promosi empat perwira dari daftar berisi 29 personel. Dua perwira yang dicoret adalah wanita, sementara dua lainnya adalah pria kulit hitam. Isu ini menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan bias rasial atau gender dalam proses promosi militer. George dilaporkan pernah meminta pertemuan dengan Hegseth dua minggu sebelumnya untuk membahas hal ini, namun pertemuan tersebut ditolak.
Situasi ini memperlihatkan dinamika internal Angkatan Darat yang semakin kompleks di tengah tekanan eksternal perang melawan Iran. Penempatan pasukan, pertahanan udara, dan sistem rudal terintegrasi menjadi kunci strategis, sementara kepemimpinan baru diharapkan mampu menyesuaikan kebijakan militer dengan arahan Presiden Trump.
Dengan pengunduran diri George, fokus kini beralih kepada Jenderal Chris LaNeve dan bagaimana ia akan mengelola transisi kepemimpinan serta menanggapi tantangan operasional yang semakin intens. Penggantian mendadak ini menandai babak baru dalam struktur komando Angkatan Darat AS, sekaligus menegaskan peran kuat Menteri Pertahanan dalam menentukan arah strategi militer Amerika Serikat di masa konflik yang belum berakhir.


Komentar