Media Pendidikan – 15 April 2026 | Istilah enabler kembali menjadi sorotan setelah dibahas dalam pertemuan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) yang meneliti kasus kekerasan seksual. Enabler merujuk pada individu atau pihak yang secara tidak langsung mendukung, memfasilitasi, atau menutup mata terhadap tindakan pelecehan, sehingga memperpanjang atau memperkuat dampak negatifnya.
Pengertian dan Bentuk Perbuatan Enabler
Secara umum, enabler dapat berupa orang yang memberi akses, memberi perlindungan, atau bahkan mengalihkan perhatian korban sehingga pelaku tidak mendapat sanksi. Dalam konteks akademik, contoh nyatanya meliputi dosen yang menutup-nutupi laporan, teman sekelas yang tidak melaporkan perilaku tidak pantas, atau institusi yang tidak menyediakan mekanisme pelaporan yang memadai.
“Apa itu enabler, seperti apa perbuatannya, dan bagaimana jika kita salah satunya?” menjadi pertanyaan kunci yang diangkat dalam diskusi tersebut, menegaskan pentingnya pemahaman bersama tentang peran yang dapat memperburuk situasi.
Kronologi Kasus di FH UI
Pada awal tahun ini, sebuah laporan mengenai pelecehan seksual di FH UI memicu penyelidikan internal. Selama proses penyelidikan, terungkap bahwa sejumlah pihak tidak hanya menolak menanggapi laporan, melainkan secara aktif menutupi fakta, menghalangi korban untuk berbicara, dan memberi ruang bagi pelaku melanjutkan perbuatannya. Tindakan-tindakan ini dikategorikan sebagai perilaku enabler.
Data internal menunjukkan bahwa dari 12 laporan yang masuk, 5 kasus mengalami penundaan penanganan lebih dari tiga bulan karena adanya intervensi pihak ketiga yang menganggap masalah tersebut bersifat pribadi atau tidak layak diangkat ke publik.
Siapa Saja yang Termasuk Enabler?
- Rekan Sejawat: Teman atau kolega yang mengetahui adanya tindakan pelecehan namun memilih untuk tidak melaporkan karena takut menimbulkan konflik.
- Atasan atau Pembimbing: Dosen, supervisor, atau pimpinan yang menutup-nutupi keluhan demi menjaga reputasi atau menghindari skandal.
- Institusi: Universitas atau organisasi yang tidak menyediakan saluran pengaduan yang aman, atau mengabaikan rekomendasi kebijakan pencegahan.
- Keluarga atau Lingkungan Dekat: Orang terdekat korban yang meremehkan atau menyalahkan korban, sehingga mengurangi dorongan korban untuk melaporkan.
Dampak dan Tindakan Penanggulangan
Keberadaan enabler memperpanjang trauma korban, mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi, dan berpotensi menimbulkan kasus berulang. Untuk memutus rantai ini, beberapa langkah penting diusulkan: pembuatan kebijakan yang jelas mengenai pelaporan, pelatihan bagi semua anggota komunitas untuk mengenali dan menolak perilaku enabler, serta penegakan sanksi bagi pihak yang terbukti menutup-nutupi kasus.
Selain itu, penting bagi setiap individu untuk menginternalisasi tanggung jawab moral: jika mengetahui adanya pelecehan, segera melaporkan melalui jalur resmi. Dengan demikian, peran enabler dapat diminimalisir, dan korban mendapatkan dukungan yang layak.
Penutupnya, pemahaman yang lebih mendalam tentang apa itu enabler dan siapa saja yang termasuk dalam kategori ini menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.


Komentar