Media Pendidikan – 05 Juni 2026 | Melihat orang dewasa berbicara dengan bayi sering kali menjadi pemandangan yang menggelikan. Nada bicaranya mendadak naik beberapa oktav, temponya lambat, dan kalimatnya berulang-ulang—seperti "Capa cucu papah yang paling lucuuu? Cemong yaaa?".
Padahal, secara logika komunikasi, bayi tersebut belum memiliki kemampuan linguistik untuk membalas ucapan itu. Mereka hanya bisa merespons dengan tatapan kosong, senyuman acak, atau malah gumaman tidak jelas.
Lantas, mengapa kita secara alami tetap melakukan interaksi dua arah yang tampak "sia-sia" ini? Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini bukan sekadar luapan gemas, melainkan sebuah kebutuhan krusial dalam membentuk manusia.
-
Infant-Directed Speech: Kode Komunikasi Universal Manusia
Baca juga: -
Membangun Fondasi Hubungan Lewat Komunikasi Nonverbal
-
Investasi Tabungan Kosakata dan Kemampuan Berpikir
Baca juga: -
Melatih Mental Komunikan Sejak Dini
Jadi, jika Anda melihat atau Anda sendiri sering mengobrol heboh dengan bayi yang bahkan belum bisa merangkak, jangan merasa konyol. Anda sedang menjalankan salah satu fungsi komunikasi paling murni, yaitu membentuk peradaban dan kemampuan berpikir manusia sejak hari pertama mereka melihat dunia.


Komentar