Daerah
Beranda » Berita » Makna Spiritual Lampion Waisak Borobudur Jadi Daya Tarik Wisatawan Dunia

Makna Spiritual Lampion Waisak Borobudur Jadi Daya Tarik Wisatawan Dunia

Makna Spiritual Lampion Waisak Borobudur Jadi Daya Tarik Wisatawan Dunia
Makna Spiritual Lampion Waisak Borobudur Jadi Daya Tarik Wisatawan Dunia

Media Pendidikan – 29 Mei 2026 | Perayaan Waisak di Candi Borobudur kembali menjadi momen yang dinantikan masyarakat dan wisatawan setiap tahunnya. Pelepasan lampion perdamaian menjadi rangkaian paling dinanti karena menghadirkan suasana sakral, tenang, serta penuh makna spiritual. Dilansir dari laman resmi Injourney Destinations, malam pelepasan lampion Waisak menjadi simbol harapan serta doa perdamaian bagi masyarakat dunia.

Ribuan cahaya yang beterbangan di langit Borobudur menghadirkan suasana magis sekaligus melambangkan penerangan batin manusia. Dalam ajaran Buddha, cahaya lampion melambangkan upaya manusia keluar dari sifat keserakahan, kebodohan, dan kemarahan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:

Momen tersebut tidak sekadar menjadi atraksi wisata, tetapi juga memiliki nilai spiritual mendalam bagi umat Buddha yang merayakannya. Saat ini, penerbangan lentera perdamaian menjadi daya tarik utama yang mendatangkan wisatawan domestik hingga mancanegara menuju Borobudur setiap tahunnya.

Pelepasan lampion dilaksanakan dalam dua sesi berbeda, yakni pukul 18.00 WIB dan 22.00 WIB pada malam perayaan Waisak. Masyarakat tidak harus mengikuti pelepasan lampion secara langsung karena tersedia area tribun khusus untuk menikmati pemandangan lebih jelas.

Baca juga:

Suasana malam penuh doa tersebut menghadirkan pengalaman spiritual sekaligus visual yang memikat bagi para pengunjung kawasan Borobudur. Prosesi Waisak dimulai melalui ritual San Bu Yi Bai sejak pukul 03.30 WIB sebelum kirab budaya berlangsung.

Setelah pelepasan lampion selesai, pengunjung dapat mengikuti Maha Kuthagara Pradaksina menjelang matahari terbit pada 1 Juni 2026. Rangkaian perayaan Waisak sendiri diawali perjalanan suci para biksu melalui kegiatan Indonesia Walk For Peace menuju Candi Borobudur.

Baca juga:

Pada perayaan Waisak 2570 BE tahun 2026, perjalanan para biksu dimulai dari Bali dan berakhir di Borobudur. Perjalanan kaki para biksu dari Brahmavihara-Arama, Buleleng, Bali menuju Borobudur diperkirakan menempuh jarak sekitar 666 kilometer.

Selama perjalanan berlangsung sejak 9 Mei 2026, masyarakat diperbolehkan menyambut para biksu melalui kirab budaya dan doa bersama. Ritual itu juga mengajarkan kesabaran, ketahanan mental, kerukunan, serta perjalanan manusia dalam mencari kedamaian dan kebijaksanaan hidup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *