Media Pendidikan – 03 Mei 2026 | Long weekend Hari Buruh pada 2‑5 Mei menjadi momen ramai bagi Kampung Batik Kauman, Solo. Selama tiga hari libur, ribuan pengunjung—baik domestik maupun mancanegara—menyusuri lorong‑lorong desa batik, menikmati kuliner khas, berfoto, dan menyaksikan proses pembuatan batik secara langsung.
Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman, Gunawan Setiawan, menyampaikan rasa syukur atas lonjakan kunjungan. Ia berkata, \”Ya, alhamdulillah kalau kemarin (Jumat) itu sampai ribuan orang yang hadir datang berkeliling menikmati suasana, duduk‑duduk foto‑foto jalan‑jalan. Terus kadang‑kadang ada yang nyoba kuliner,\” menambahkan bahwa banyak tamu yang membeli oleh‑oleh serta ikut membatik.
Aktivitas utama wisatawan
Pengunjung memanfaatkan suasana alami kampung yang tidak direkayasa. Sebagian besar memilih duduk di bangku sederhana, mencicipi nasi liwet, sate kelinci, atau serabi khas Solo. Spot-spot foto yang Instagramable tersebar di setiap sudut, memicu beragam pose selfie dan grup. Bagi yang tertarik dengan warisan budaya, proses membatik—dari menggambar pola hingga pewarnaan kain—menjadi atraksi utama. Banyak yang mengabadikan momen tersebut untuk dibagikan di media sosial.
Data dari Paguyuban menunjukkan bahwa sekitar 70 % pengunjung berusia remaja, yang cenderung fokus pada swafoto dan kuliner terjangkau. Kampung ini memiliki lebih dari 40 showroom batik, didukung oleh 37 outlet konveksi serta sejumlah coffee shop yang dikelola generasi muda. Beberapa rumah tradisional kini beralih menjadi warung makan, menambah ragam pilihan kuliner bagi wisatawan.
Kehadiran wisatawan asing meningkat seiring dengan acara Solo Menari yang berlangsung bersamaan. Mereka biasanya berbelanja batik sebagai oleh‑oleh sebelum kembali ke negara asal. Gunawan mencatat, \”Kita bikin suasananya memang alami dan apa adanya. Tidak direkayasa. Kursi meja kita keluarkan simpel saja,\” menekankan pentingnya mempertahankan keautentikan.
Seorang wisatawan asal Tangerang, Ofla Audia, mengaku baru pertama kali mengunjungi Kampung Batik Kauman. Ia menilai lokasi tersebut sangat Instagramable dan bersih, serta menyediakan banyak spot foto yang menarik. \”Saya suka foto‑foto bersama anak‑anak muda lain karena Instagramable. Baru pertama kali ini. Saya tahu ini dari sosmed,\” ujarnya.
Dengan antusiasme tinggi, pihak kampung berharap agar penduduk setempat terus menjaga karakteristik Kauman sebagai pusat usaha berbasis budaya dan religius. Upaya melestarikan nilai tradisional sekaligus mengakomodasi kebutuhan generasi muda menjadi tantangan utama ke depan.


Komentar