Media Pendidikan – 26 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa kritik MBG menjadi faktor utama untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap tepat sasaran dan memberikan dampak optimal bagi masyarakat luas.
Program MBG, yang diluncurkan sebagai upaya strategis nasional untuk menurunkan tingkat kemiskinan dan stunting, menargetkan jutaan anak dan keluarga berpendapatan rendah dengan menyediakan makanan bergizi secara gratis. Karena skala yang sangat luas, pengawasan, evaluasi, dan kritik menjadi kebutuhan krusial agar tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan di tingkat lapangan.
“Program MBG merupakan langkah besar untuk menekan kemiskinan dan stunting, sekaligus menyiapkan generasi masa depan,” ujar Abdul Rivai Ras dalam sambutan pada acara konferensi pers di kantor RRI, Jakarta. Ia menambahkan bahwa tanpa mekanisme kritik yang konstruktif, potensi permasalahan seperti kelangkaan beras atau protein hewani dapat mengganggu keseimbangan sistem pangan nasional.
Rivai menyoroti bahwa keberhasilan MBG tidak dapat digantungkan semata pada pemerintah. Diperlukan sinergi antara dunia usaha, pengelola dapur, pemasok pangan, akademisi, dan pelaku ekonomi lokal. Contohnya, beberapa daerah telah melaporkan indikasi penurunan ketersediaan beras dan bahan protein akibat lonjakan permintaan, yang menandakan perlunya koordinasi rantai pasok yang lebih terintegrasi.
Dalam rangka memperkuat tata kelola, APPMBGI menyelenggarakan Summit 2026 yang mempertemukan pemangku kepentingan dari seluruh Indonesia. Tujuan utama pertemuan tersebut adalah mengkonsolidasikan kebijakan, mengamankan rantai suplai MBG secara nasional, serta membangun kemitraan strategis yang mendukung keberlanjutan ekonomi lokal. Summit tersebut menghasilkan rekomendasi untuk meningkatkan transparansi pelaporan, memperluas pelatihan pengelola dapur, serta mengimplementasikan sistem monitoring berbasis teknologi.
- Target utama MBG: menurunkan stunting sebesar 15% dalam lima tahun.
- Skala program meliputi lebih dari 3.000 dapur di 34 provinsi.
- Kritik MBG diharapkan dapat mengidentifikasi kendala logistik dan distribusi sejak dini.
Penutup, Rivai menegaskan bahwa kritik MBG bukan sekadar proses administratif, melainkan mekanisme vital untuk menyesuaikan kebijakan dengan realitas lapangan. Dengan partisipasi aktif semua pihak, program diharapkan terus beradaptasi, menjamin akses gizi yang berkelanjutan, serta memperkuat ketahanan pangan nasional.


Komentar