Ekonomi
Beranda » Berita » Kredit Perbankan Bali Mencapai Rp119,75 Triliun di Februari 2026, Akomodasi & Real Estate Dorong Pertumbuhan

Kredit Perbankan Bali Mencapai Rp119,75 Triliun di Februari 2026, Akomodasi & Real Estate Dorong Pertumbuhan

Kredit Perbankan Bali Mencapai Rp119,75 Triliun di Februari 2026, Akomodasi & Real Estate Dorong Pertumbuhan
Kredit Perbankan Bali Mencapai Rp119,75 Triliun di Februari 2026, Akomodasi & Real Estate Dorong Pertumbuhan

Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Denpasar, 5 Mei 2026 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan bahwa penyaluran kredit perbankan di Pulau Dewata pada Februari 2026 mencapai Rp119,75 triliun. Angka tersebut menandakan pertumbuhan positif dibandingkan periode sebelumnya dan dipicu kuat oleh sektor akomodasi serta real estate yang kembali bangkit setelah pandemi.

Data OJK menunjukkan bahwa total kredit yang diberikan oleh bank-bank komersial di Bali meningkat secara signifikan, dengan sebagian besar aliran dana diarahkan ke usaha perhotelan, vila, serta pengembangan properti residensial dan komersial. Jika dibandingkan dengan Januari 2026, nilai kredit naik lebih dari 12 persen, mencerminkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi daerah.

Baca juga:

“Pertumbuhan kredit ini menunjukkan kepercayaan sektor pariwisata dan properti terhadap ekonomi Bali, serta menegaskan peran penting perbankan dalam mendukung investasi,” ujar Kepala Departemen Kredit OJK Provinsi Bali, Ibu Siti Nurhaliza dalam konferensi pers pada hari Rabu.

Sektor akomodasi menjadi penyumbang utama, mengingat Bali terus menjadi destinasi wisata internasional utama. Kenaikan kunjungan wisatawan domestik dan asing sejak awal tahun meningkatkan permintaan akan kamar hotel, resort, serta penyewaan jangka pendek. Bank-bank menanggapi kebutuhan ini dengan memberikan fasilitas kredit modal kerja, renovasi, dan ekspansi properti, yang secara kolektif menyumbang lebih dari 45 persen total kredit bulan itu.

Baca juga:

Di sisi lain, pasar real estate juga mengalami lonjakan. Permintaan properti hunian mewah serta proyek mixed‑use di kawasan Seminyak, Kuta, dan Nusa Dua memicu pembangunan baru dan pembelian kembali lahan. Kredit untuk pengembang properti mencakup pembiayaan konstruksi, pembiayaan proyek, dan pendanaan pra‑jual, yang secara keseluruhan menambah sekitar 30 persen dari total aliran dana perbankan.

Para analis ekonomi menilai bahwa peningkatan kredit ini tidak hanya memperkuat likuiditas sektor usaha, tetapi juga memberi sinyal positif bagi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Bali. Dengan tingkat kredit yang tinggi, bank dapat menurunkan suku bunga pinjaman, meningkatkan daya beli konsumen, dan memperluas lapangan kerja di industri terkait.

Baca juga:

Namun, OJK tetap mengingatkan pentingnya pengelolaan risiko. “Bank harus memastikan kualitas portofolio tetap terjaga, terutama mengingat volatilitas pasar global yang dapat mempengaruhi aliran wisatawan,” tambah Ibu Siti. OJK berkomitmen memantau perkembangan kredit secara berkala dan memberikan arahan kebijakan guna menjaga stabilitas keuangan daerah.

Ke depan, diperkirakan kredit perbankan di Bali akan terus tumbuh seiring dengan musim liburan yang akan datang dan peluncuran proyek infrastruktur pemerintah yang mendukung mobilitas wisatawan. Jika tren ini berlanjut, Bali dapat memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi kreatif dan pariwisata di Asia Tenggara.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *