Nasional
Beranda » Berita » Kontroversi Paspor Ganda Pemain Timnas Indonesia Merambah Liga Belgia, Joey Pelupessy Jadi Sorotan

Kontroversi Paspor Ganda Pemain Timnas Indonesia Merambah Liga Belgia, Joey Pelupessy Jadi Sorotan

Kontroversi Paspor Ganda Pemain Timnas Indonesia Merambah Liga Belgia, Joey Pelupessy Jadi Sorotan
Kontroversi Paspor Ganda Pemain Timnas Indonesia Merambah Liga Belgia, Joey Pelupessy Jadi Sorotan

Media Pendidikan – 04 April 2026 | Polemik seputar penggunaan paspor ganda oleh pemain Timnas Indonesia kembali mengemuka, kali ini meluas hingga Liga Belgia. Isu yang semula terbatas pada pemain keturunan Indonesia yang berkarier di Belanda kini menjerat nama Joey Pelupessy, gelandang muda yang baru bergabung dengan klub Belgia, sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai kebijakan kepemilikan paspor ganda dalam sepak bola internasional.

Paspor ganda menjadi topik sensitif sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah sejumlah pemain diaspora Indonesia memperoleh kesempatan bermain untuk Timnas melalui naturalisasi atau hak keturunan. Kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang integritas kompetisi, kepatuhan pada regulasi FIFA, serta implikasi politik dan kebangsaan. Pada awal 2024, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan PSSI menegaskan kembali pentingnya kepatuhan pada aturan FIFA mengenai perubahan asosiasi serta menolak praktek yang dapat menimbulkan konflik kepentingan.

Baca juga:

Kasus terbaru melibatkan Joey Pelupessy, yang lahir di Belanda dari orang tua keturunan Indonesia. Pelupessy, yang sebelumnya bermain di kompetisi Belanda, menandatangani kontrak dengan klub Belgia pada musim panas 2024. Sekitar waktu yang sama, ia dipanggil untuk memperkuat skuad Timnas Indonesia dalam rangka kualifikasi Piala Asia 2027. Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan pengamat dan fans, mengingat ia masih memegang paspor Belgia dan Belanda, serta belum menyelesaikan proses perubahan asosiasi secara resmi di mata FIFA.

Pengamat sepak bola menilai bahwa kasus Pelupessy menyoroti kerentanan sistem regulasi yang masih mengandalkan prosedur administratif yang panjang. “Jika pemain seperti Pelupessy tidak mengurus perubahan asosiasi dengan tepat, mereka berisiko dikenai sanksi, termasuk dilarang bermain untuk Timnas atau bahkan pencabutan hak bermain di liga asing,” ujar Dwi Prasetyo, analis sepak bola independen. “Selain itu, ada tekanan politik dari pihak-pihak yang menganggap pemain diaspora seharusnya lebih mengutamakan negara asal mereka dalam hal representasi internasional.”

Di sisi lain, perwakilan pemain mengemukakan bahwa banyak pemain diaspora memiliki ikatan emosional kuat dengan Indonesia dan ingin berkontribusi pada perkembangan sepak bola tanah air. “Kami tidak ingin pemain muda terhalang oleh birokrasi yang berbelit,” kata Rina Suryani, ketua Asosiasi Pemain Indonesia (API). “Jika mereka memenuhi kualifikasi FIFA, seharusnya tidak ada halangan bagi mereka untuk mengenakan seragam merah putih, baik di kompetisi domestik maupun di luar negeri.”

Baca juga:

Sementara itu, pihak PSSI menyatakan bahwa mereka telah mengirimkan surat resmi kepada FIFA untuk mempercepat proses perubahan asosiasi bagi pemain yang bersedia. Namun, proses verifikasi dokumen, termasuk bukti kelahiran, kewarganegaraan orang tua, serta riwayat klub, dapat memakan waktu berbulan-bulan. Dalam kasus Pelupessy, dokumen masih dalam tahap verifikasi, sehingga kepastian kehadirannya di Timnas belum dapat dipastikan.

Kompleksitas tambahan muncul karena Liga Belgia memiliki regulasi ketat mengenai pemain non-EU. Klub-klub Belgia biasanya membatasi kuota pemain non-EU untuk menjaga keseimbangan kompetitif. Jika Pelupessy belum memiliki paspor UE yang diakui, klubnya harus menyesuaikan kuota pemain asing, yang dapat mempengaruhi keputusan transfer dan pemilihan skuad. Hal ini menambah tekanan pada pemain untuk menyelesaikan proses paspor secepat mungkin.

Polemik ini juga menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap pemain muda Indonesia yang bermimpi menembus liga Eropa. Jika proses administratif menjadi penghalang, bakat-bakat lokal mungkin akan enggan mengejar karier di luar negeri. Oleh karena itu, sejumlah pihak menyerukan reformasi kebijakan yang lebih fleksibel, sekaligus menegakkan standar integritas kompetisi.

Baca juga:

Di tengah perdebatan, fans di media sosial menunjukkan dukungan yang beragam. Sebagian mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu lunak dalam memberikan paspor ganda, sementara yang lain menyoroti pentingnya memberi kesempatan bagi pemain diaspora untuk memperkuat Timnas. Tagar #PelupessyBerkibar dan #PasporGandaIndonesia menjadi trending di platform Twitter Indonesia selama beberapa hari terakhir.

Secara keseluruhan, kasus Joey Pelupessy menjadi cermin dinamika yang lebih luas dalam dunia sepak bola Indonesia. Ia bukan hanya seorang pemain yang beralih klub, melainkan simbol dari tantangan struktural antara regulasi internasional, kebijakan nasional, dan aspirasi pribadi. Penyelesaian yang transparan dan adil diharapkan dapat menjadi contoh bagi pemain diaspora lainnya, sekaligus menjaga integritas kompetisi baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Kesimpulannya, kontroversi paspor ganda yang kini menyentuh Liga Belgia menegaskan perlunya koordinasi yang lebih baik antara PSSI, FIFA, serta otoritas liga asing. Tanpa langkah konkret, kasus seperti Joey Pelupessy dapat berpotensi menimbulkan keretakan dalam strategi pengembangan pemain Indonesia di kancah global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *