Media Pendidikan – 16 April 2026 | Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menyampaikan pidato penting pada acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ormas Islam dan Halalbihalal 1447 H yang digelar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Rabu 15 April 2026. Dalam sambutannya, Muzani menegaskan bahwa Indonesia tidak akan berhenti menyuarakan perdamaian dunia, khususnya terkait konflik yang terjadi di Gaza dan Iran.
Pidato tersebut dilansir dalam rangkaian perayaan Harlah ke-100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan pada 31 Januari 2026, yang sekaligus menjadi momentum bagi pemimpin legislatif tinggi negara untuk menegaskan posisi politik luar negeri Indonesia. Muzani menyinggung sikap Presiden Prabowo Subianto yang selalu menaruh perhatian serius terhadap bahaya perang, serta menyoroti penderitaan warga sipil di zona konflik.
“Presiden Prabowo selalu menyampaikan ke hadapan kita, perang begitu jahat, perang begitu berbahaya, perang begitu bengis, tidak ada batas kemanusiaan. Memang dalam hukum perang, anak-anak tidak boleh dibunuh, perempuan tidak boleh dibunuh. Tapi yang terjadi, anak-anak, orang tua, perempuan dihancurkan. Lihatlah di Gaza, lihatlah di Iran, dan seterusnya,” tegas Muzani.
Menanggapi situasi tersebut, Muzani menegaskan bahwa Indonesia harus terus menjaga perdamaian dunia sebagai bagian dari tuntutan konstitusi. Ia menambahkan bahwa diplomasi dan perundingan merupakan satu-satunya jalan yang dapat mencegah bencana kemanusiaan, peradaban, dan ekonomi yang diakibatkan oleh konflik bersenjata.
Dalam konteks sejarah, Muzani mengingatkan bahwa stabilitas global pasca-Perang Dunia Kedua tercapai berkat negosiasi multilateral, bukan melalui kekuatan militer. Ia memperingatkan bahwa kembali mengandalkan kekerasan akan menimbulkan konsekuensi yang “ada di depan mata kita”.
Selain menekankan pentingnya diplomasi, Muzani juga memberikan apresiasi tinggi terhadap pembacaan 10 poin Taujihat yang dibacakan oleh pimpinan ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurutnya, semangat “Komite Hijaz” pada awal abad ke-20 yang berhasil menyelamatkan dunia Islam dari perpecahan menjadi contoh inspiratif bagi upaya perdamaian dunia.
“Saya berharap 10 Taujihat yang baru saja dibacakan tidak berhenti di forum yang terhormat ini, tidak hanya ditepuk tangan saja, tetapi akan menjadi inspirasi bagi penggerak perdamaian dunia,” tutup Muzani.
Pidato ini menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam diplomasi multilateral, mengingat peran strategisnya dalam organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dengan menyoroti konflik Gaza dan Iran, Muzani mengajak semua pihak untuk mengutamakan dialog, menghindari eskalasi militer, serta memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa secara damai.


Komentar