Hiburan
Beranda » Berita » Kesalahan Penulisan Nama Prof. Johan Silas dalam Rubrik “Cari Muka” Menjadi Sorotan Media

Kesalahan Penulisan Nama Prof. Johan Silas dalam Rubrik “Cari Muka” Menjadi Sorotan Media

Kesalahan Penulisan Nama Prof. Johan Silas dalam Rubrik "Cari Muka" Menjadi Sorotan Media
Kesalahan Penulisan Nama Prof. Johan Silas dalam Rubrik "Cari Muka" Menjadi Sorotan Media

Media Pendidikan – 14 April 2026 | JPNN.com – Sebuah kesalahan penulisan di situs berita mengakibatkan nama Prof. Johan Silas, penerima Agha Khan Award asal Surabaya, secara keliru dimasukkan dalam daftar almarhum. Kesalahan tersebut terungkap setelah putri sang akademisi, Ina Silas, meluruskan bahwa ayahnya masih aktif mengajar di universitas.

Insiden ini pertama kali muncul pada 12 April 2026 dalam catatan harian Disway yang membahas hotel Syiah di Islamabad, yang kemudian secara tidak sengaja mencantumkan Prof. Silas sebagai sosok yang telah meninggal dunia. JPNN.com, yang menyiarkan ulang informasi tersebut, menambahkan nama Profesor Silas ke dalam rubrik “Cari Muka“, sebuah segmen yang biasanya menyoroti orang‑orang yang belum diketahui keberadaannya atau yang informasi tentang mereka belum lengkap.

Baca juga:

Namun, Ina Silas segera memberikan klarifikasi melalui pernyataan resmi: “Papa saya masih aktif mengajar,” ujarnya, menegaskan bahwa tuduhan kematian tersebut tidak berdasar. Ia juga menambahkan bahwa ayahnya terus terlibat dalam kegiatan akademik, termasuk pengajaran dan penelitian di bidang teknologi pertanian.

Prof. Johan Silas, yang pada tahun 2023 menerima Agha Khan Award atas kontribusinya dalam pengembangan metode irigasi berkelanjutan, memang pernah menjadi sorotan media nasional. Penghargaan tersebut diberikan di Surabaya dan menandai pencapaian signifikan dalam bidang ilmu pertanian. Meskipun demikian, tidak ada laporan resmi mengenai wafatnya, sehingga penempatan namanya dalam daftar almarhum menimbulkan kebingungan di kalangan kolega dan mahasiswa.

Baca juga:

Setelah menerima klarifikasi, redaksi JPNN.com melakukan peninjauan ulang terhadap proses verifikasi data. Dalam sebuah pernyataan, mereka mengakui adanya kekeliruan dan berjanji untuk meningkatkan standar validasi sebelum mempublikasikan informasi sensitif. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang timbul,” ujar juru bicara JPNN.com, menambahkan bahwa koreksi resmi akan dipublikasikan secepatnya.

Kasus ini menyoroti pentingnya akurasi dalam pelaporan, khususnya pada platform digital yang cepat menyebarkan informasi. Menurut data internal Disway, pada kuartal pertama 2026 terdapat 27 laporan yang kemudian harus direvisi karena kesalahan faktual, menunjukkan tantangan dalam menjaga kualitas konten di era media sosial.

Baca juga:

Sejauh ini, tidak ada perkembangan lebih lanjut mengenai tindakan hukum atau sanksi terhadap pihak yang menyebarkan informasi keliru. Prof. Silas sendiri menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan pekerjaan akademik tanpa terpengaruh oleh insiden tersebut. Sementara itu, Ina Silas berharap kasus “cari muka” ini menjadi pelajaran bagi media dalam menegakkan etika jurnalistik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *