Nasional
Beranda » Berita » JK: Penistaan Agama Muncul Usai Adukan Rismon Soal Ijazah Jokowi

JK: Penistaan Agama Muncul Usai Adukan Rismon Soal Ijazah Jokowi

JK: Penistaan Agama Muncul Usai Adukan Rismon Soal Ijazah Jokowi
JK: Penistaan Agama Muncul Usai Adukan Rismon Soal Ijazah Jokowi

Media Pendidikan – 19 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan klarifikasi dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya, kawasan Jakarta Selatan. JK mengungkapkan bahwa laporan dugaan penistaan agama terhadap dirinya muncul sesudah ia melaporkan ahli digital forensik Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Ia menegaskan langkah tersebut diambil bukan untuk melawan Presiden, melainkan untuk menegakkan hukum.

Rismon Sianipar sebelumnya menuduh JK mendanai penyebaran ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut JK, laporan ke polisi merupakan respons atas tuduhan tak berdasar yang berpotensi merusak reputasi publik. Ia menolak segala tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam pendanaan atau penyebaran dokumen palsu, sekaligus menegaskan bahwa proses hukum harus dijalankan secara transparan dan profesional.

Baca juga:

Dalam kesempatan yang sama, JK meminta Jokowi secara terbuka menampilkan ijazah aslinya kepada publik. Ia menilai perdebatan mengenai keaslian ijazah Jokowi telah berlangsung selama dua tahun, memicu keretakan sosial dan demonstrasi. “Sudahlah Pak Jokowi, kasih lihat saja ijazahnya. Itu saja. Saya lihat itu asli, mengapa tidak ditunjukkan?” ujar JK, menekankan bahwa penyelesaian masalah tersebut dapat meredakan ketegangan masyarakat.

JK menegaskan bahwa nasihatnya bukanlah serangan politik, melainkan wujud tanggung jawab seorang senior kepada generasi yang lebih muda. Sebagai mantan wakil presiden yang pernah mendampingi Jokowi, ia merasa wajib memberikan masukan demi kepentingan bangsa. “Saya lebih tua darinya, jadi sebagai senior saya menasihati, bukan melawan,” tegasnya, menepis spekulasi bahwa ia berusaha menjatuhkan Presiden.

Baca juga:

Setelah laporan ke polisi, Rismon Sianipar dan pakar telematika Roy Suryo berusaha mengatur pertemuan dengan JK. Rismon mengirimkan buku berjudul “Gibran End Game” dan mengusulkan pertemuan dengan tujuh orang pendampingnya. JK menolak semua tawaran tersebut, menyatakan bahwa penolakan itu bertujuan menjaga netralitas dan objektivitasnya dalam menilai isu ijazah Jokowi. Penolakan serupa juga diterapkan terhadap permintaan pertemuan Roy Suryo.

Reaksi publik pun beragam. Sebagian menganggap pernyataan JK tentang ijazah sebagai langkah penting untuk mengungkap kebenaran, sementara yang lain menuduhnya menyinggung sensitivitas agama, mengingat isu penistaan agama telah muncul. JK menegaskan bahwa ia tidak berniat menyinggung agama mana pun; sebaliknya, ia mengajak semua pihak menahan provokasi dan menyerahkan proses hukum kepada lembaga berwenang. Ia menekankan pentingnya menjaga perdamaian serta persatuan bangsa di tengah dinamika politik yang kerap memanas.

Baca juga:

Secara keseluruhan, JK berusaha menyeimbangkan antara menegakkan keadilan hukum, melindungi integritas institusi, dan memberikan nasihat yang konstruktif kepada Presiden. Dengan menolak pertemuan yang dapat menimbulkan konflik kepentingan serta mengajak transparansi atas dokumen akademik, JK berharap dapat meredam perdebatan publik yang telah berlangsung lama dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *