Perguruan Tinggi
Beranda » Berita » Jebakan Literasi Semu: Mengapa Mahasiswa Merasa Tahu Padahal Hanya Melihat?

Jebakan Literasi Semu: Mengapa Mahasiswa Merasa Tahu Padahal Hanya Melihat?

Jebakan Literasi Semu: Mengapa Mahasiswa Merasa Tahu Padahal Hanya Melihat?
Jebakan Literasi Semu: Mengapa Mahasiswa Merasa Tahu Padahal Hanya Melihat?

Media Pendidikan – 04 Juni 2026 | Sebagai pelajar, seringkali ada perasaan seolah kita ini tahu segalanya. Cukup dengan mencari informasi di TikTok, Instagram, atau X, rasanya semua jawaban sudah tersedia. Namun, apakah kita betul-betul mengerti apa yang kita baca tersebut, ataukah kita cuma terjebak dalam apa yang dinamakan literasi semu?

Literasi semu merupakan suatu keadaan di mana seorang mahasiswa merasa dirinya sudah literat hanya karena sering ‘melihat’ atau terpapar banyak sekali konten informasi. Padahal, esensi dari informasi itu sendiri belum benar-benar dipahami secara mendalam.

Baca juga:

Kita ini menjadi generasi yang cenderung ‘headline-driven’, artinya merasa cukup hanya dengan melihat judul berita tanpa pernah sungguh-sungguh membaca isinya. Di dalam kelas, misalnya, seringkali diskusi cuma mengandalkan potongan-potongan informasi dan bukan hasil dari membaca yang lebih serius.

Salah satu penyebab utama adalah kita menjadi kecanduan dengan ‘infinite scroll’ di media sosial. Video-video pendek yang durasinya cuma 15 detik itu memberikan semacam kepuasan yang instan, yang pada akhirnya membuat otak jadi malas untuk fokus pada bacaan yang lebih panjang.

Baca juga:

Solusi terbaik tentu dimulai dari kita sendiri. Lantas, sebagai mahasiswa, apa yang bisa kita lakukan? Coba lakukan detoks digital, berikan waktu setidaknya 30 menit setiap hari untuk membaca tanpa ada gangguan notifikasi sama sekali.

Terpapar metode ‘Jeda dan Renungkan’. Jadi, sebelum buru-buru membagikan informasi atau bahkan mengutip sesuatu, ada baiknya berhenti sebentar. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri.

Baca juga:

Berikan komitmen ‘Satu Hari, Satu Artikel Lengkap.’ Luangkan sedikit waktu tiap hari untuk membaca minimal satu artikel yang panjang, sampai tuntas, bukan hanya ringkasannya saja.

Jebakan literasi semu, itu sebuah ancaman yang nyata sekali bagi masa depan kita nanti. Menjadi mahasiswa bukan cuma untuk meraih gelar pendidikan, melainkan juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Kita harus bisa menunjukkan bahwa mahasiswa di Indonesia bukan hanya pandai melakukan scrolling, namun juga mahir memahami dan mengkritisi beragam informasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *