Media Pendidikan – 01 Mei 2026 | Global Life-Work Balance Index 2025 yang dirilis pada awal Mei 2026 menyoroti adanya dua puluh negara yang berada di posisi terendah dalam hal keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Laporan tersebut menegaskan bahwa di negara-negara ini jam kerja cenderung panjang sementara hak cuti tahunan sangat terbatas, menimbulkan tekanan signifikan bagi pekerja.
Faktor Penyebab
Para analis dalam laporan mengidentifikasi tiga faktor utama yang memperparah situasi: budaya kerja yang menekankan lembur, regulasi ketenagakerjaan yang lemah, dan kurangnya kebijakan perusahaan yang mendukung fleksibilitas. “Work-life balance yang buruk dapat mengurangi kualitas tenaga kerja dan menurunkan inovasi,” kata salah satu peneliti utama laporan.
Selain itu, laporan menekankan bahwa ketimpangan dalam kebijakan cuti tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental pekerja. Di negara-negara dengan cuti minimal, tingkat burnout dilaporkan lebih tinggi dibandingkan negara dengan kebijakan cuti yang lebih ramah pekerja.
Data juga mengungkap perbedaan signifikan antar wilayah. Beberapa negara di Asia dan Amerika Latin menempati posisi teratas dalam daftar terburuk, sementara sebagian besar negara Eropa menampilkan skor yang lebih baik, mencerminkan keberhasilan kebijakan kerja fleksibel dan cuti yang lebih lama di wilayah tersebut.
Penutup, laporan Global Life-Work Balance Index 2025 menegaskan pentingnya reformasi kebijakan ketenagakerjaan. Pemerintah dan perusahaan diharapkan dapat meninjau kembali regulasi jam kerja serta meningkatkan alokasi cuti tahunan untuk memperbaiki kualitas hidup pekerja dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.


Komentar