Nasional
Beranda » Berita » Jakarta Raih Predikat Kota Teraman Kedua di ASEAN, Pramono Anung Soroti Keberagaman sebagai Kunci

Jakarta Raih Predikat Kota Teraman Kedua di ASEAN, Pramono Anung Soroti Keberagaman sebagai Kunci

Jakarta Raih Predikat Kota Teraman Kedua di ASEAN, Pramono Anung Soroti Keberagaman sebagai Kunci
Jakarta Raih Predikat Kota Teraman Kedua di ASEAN, Pramono Anung Soroti Keberagaman sebagai Kunci

Media Pendidikan – 07 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan keterkejutannya ketika sebuah laporan internasional menempatkan ibukota Indonesia sebagai kota teraman kedua di kawasan Asia Tenggara. Laporan yang dimaksud adalah Global Residence Index (GRI) 2026, sebuah survei yang menilai keamanan, kualitas hidup, dan fasilitas bagi penduduk serta ekspatriat di berbagai kota dunia. Menurut GRI, Jakarta menempati peringkat kedua setelah Bangkok, menandakan peningkatan signifikan dalam persepsi keamanan publik.

Pramono menyatakan bahwa pencapaian ini bukan sekadar hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja keras pemerintah daerah serta peran aktif masyarakat dalam menjaga kerukunan. “Keberagaman yang ada di Jakarta adalah aset paling kuat. Kami berhasil mengintegrasikan beragam suku, agama, dan budaya menjadi satu kesatuan yang harmonis,” ujar Gubernur dalam sebuah konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (7 April 2026). Ia menekankan bahwa keamanan kota tidak hanya diukur dari angka kejahatan semata, tetapi juga dari tingkat toleransi dan solidaritas antarwarga.

Baca juga:

Data Global Residence Index menyoroti beberapa faktor utama yang mempengaruhi peringkat keamanan, antara lain tingkat kejahatan, respons kepolisian, kualitas infrastruktur, serta kebijakan publik yang mendukung inklusivitas. Jakarta memperoleh nilai tinggi pada indikator kebijakan inklusif, terutama dalam program “Jakarta Toleransi” yang diluncurkan pada tahun 2020. Program ini mencakup kampanye edukasi keberagaman di sekolah, pelatihan bagi aparat keamanan, serta penyediaan ruang publik yang ramah bagi semua kalangan.

Selain program kebijakan, Pramono menambahkan bahwa investasi dalam teknologi keamanan juga berkontribusi pada peringkat tersebut. Penggunaan sistem CCTV berbasis AI, integrasi data antara Satpol PP, Polri, dan Badan Pengelola Transportasi (Dinas Perhubungan) memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap insiden. Pada tahun 2025, kota ini memasang lebih dari 10.000 kamera pengawas di titik-titik strategis, termasuk area wisata, pusat bisnis, dan kawasan pemukiman padat.

Namun, Gubernur tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih ada. Ia mengakui adanya peningkatan laporan kejahatan siber serta kebutuhan untuk memperkuat keamanan transportasi massal. “Kami akan terus memperkuat sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Keamanan bukan hanya tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Baca juga:

Keberagaman yang menjadi keunggulan Jakarta juga tercermin dalam statistik demografis. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, lebih dari 200 suku bangsa dan 300 bahasa daerah berinteraksi di ibukota. Festival budaya tahunan, seperti “Jakarta International Culture Festival,” menarik ribuan pengunjung domestik maupun mancanegara, memperkuat citra kota sebagai tempat yang inklusif dan aman bagi semua.

Pengamat keamanan regional, Dr. Hendra Saputra, menilai pencapaian Jakarta sebagai indikator positif bagi stabilitas ASEAN. “Jika satu kota terbesar di kawasan ini berhasil mengelola keragaman dengan baik, maka dapat menjadi model bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media lokal. Dr. Hendra menambahkan bahwa peringkat GRI dapat menjadi alat ukur kebijakan publik yang lebih transparan dan berbasis data.

Di sisi lain, pihak bisnis melihat peluang baru dari peringkat ini. Perusahaan multinasional yang mempertimbangkan ekspansi ke Asia Tenggara kini lebih tertarik menempatkan kantor pusat regional di Jakarta. Menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), pada kuartal pertama 2026 tercatat peningkatan investasi asing sebesar 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan sebagian besar investasi mengarah ke sektor teknologi, keuangan, dan pariwisata.

Baca juga:

Untuk mendukung momentum positif ini, Gubernur Pramono mengumumkan beberapa inisiatif lanjutan. Diantaranya, program “Smart Safe Jakarta” yang akan mengintegrasikan data real-time keamanan dengan aplikasi mobile untuk warga, serta peluncuran program beasiswa keamanan komunitas bagi pemuda yang ingin berkarier di bidang kepolisian atau manajemen risiko.

Pramono juga menegaskan pentingnya peran media dalam membangun persepsi keamanan. “Media harus menyajikan fakta secara berimbang, bukan sekadar menyoroti insiden negatif. Kami mengundang media untuk menjadi mitra dalam edukasi publik,” ujarnya.

Kesimpulannya, peringkat Jakarta sebagai kota teraman kedua di ASEAN menandai transformasi signifikan dalam kebijakan keamanan dan keberagaman. Pencapaian ini tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, sektor swasta, dan warga yang aktif berpartisipasi. Meskipun tantangan tetap ada, komitmen untuk memperkuat teknologi, memperluas program inklusif, dan meningkatkan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mempertahankan dan meningkatkan peringkat tersebut di masa depan.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *