Daerah
Beranda » Berita » Hujan Deras Pemicu Longsor Mematikan di Sibolangit, Deli Serdang: 5 Korban Meninggal, 6 Rumah Hancur

Hujan Deras Pemicu Longsor Mematikan di Sibolangit, Deli Serdang: 5 Korban Meninggal, 6 Rumah Hancur

Hujan Deras Pemicu Longsor Mematikan di Sibolangit, Deli Serdang: 5 Korban Meninggal, 6 Rumah Hancur
Hujan Deras Pemicu Longsor Mematikan di Sibolangit, Deli Serdang: 5 Korban Meninggal, 6 Rumah Hancur

Media Pendidikan – 08 April 2026 | Pada dini hari Rabu, 8 April 2026, hujan deras yang mengguyur wilayah Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, memicu terjadinya longsor besar yang menelan lima nyawa dan merobohkan enam rumah penduduk. Bencana alam ini menambah daftar tragedi alam yang melanda provinsi tersebut dalam beberapa minggu terakhir, sekaligus menegaskan kerentanan masyarakat setempat terhadap cuaca ekstrem.

Tim SAR gabungan, yang dipimpin oleh Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih, segera melakukan operasi pencarian dan evakuasi. Pada pukul 06.40 WIB, tim berhasil menemukan seluruh korban yang terperangkap. Dari total enam orang yang ditemukan, lima dinyatakan meninggal dunia dan satu orang berhasil diselamatkan dengan luka sedang. Penemuan korban dalam waktu kurang dari empat jam menunjukkan koordinasi yang cukup baik antara aparat lokal dan relawan.

Baca juga:
  • Gobal Sembiring, 39 tahun – meninggal dunia
  • Rizki Sembiring, 14 tahun – meninggal dunia
  • Boy Simorangkir, 48 tahun – meninggal dunia
  • Jamilah Boru Ginting, 40 tahun – meninggal dunia
  • Rosmawati, 30 tahun – meninggal dunia
  • Sehat Tarigan, 65 tahun – selamat, mengalami luka sedang

Korban yang selamat, Sehat Tarigan, segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pancur Batu untuk perawatan lebih lanjut. Sementara itu, jenazah korban meninggal juga dibawa ke rumah sakit tersebut untuk proses identifikasi dan pemakaman sesuai prosedur. Seluruh korban telah ditemukan, sehingga tidak ada laporan orang hilang terkait kejadian ini.

Namun, proses evakuasi dan penanganan medis tidak berjalan mulus. Tuahta Ramajaya Saragih mengungkapkan bahwa kondisi jalan yang licin dan terhalang oleh material longsor menjadi penghambat utama. Akses kendaraan darurat terhambat, sehingga waktu tempuh menuju lokasi meningkat signifikan. Pihak berwenang kini tengah berupaya membuka jalur alternatif dan melakukan pengerukan untuk memulihkan akses jalan utama.

“Akses jalan macet dan licin akibat tanah longsor menjadi tantangan terbesar dalam operasi penyelamatan. Kami terus berkoordinasi dengan Satpol PP, TNI, dan relawan setempat untuk mempercepat proses pengerukan dan memastikan bantuan dapat sampai ke korban dengan cepat,” ujar Tuahta dalam keterangan resmi.

Baca juga:

Kejadian ini menimbulkan kepanikan di antara penduduk sekitar, terutama keluarga yang kehilangan anggota keluarga serta mereka yang rumahnya hancur. Pemerintah Kabupaten Deli Serdang segera mengaktifkan posko penampungan sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Bantuan sembako, selimut, dan perlengkapan kebersihan juga disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta lembaga kemanusiaan setempat.

Para ahli geologi menyarankan agar daerah rawan longsor seperti Sibolangit melakukan penataan lahan yang lebih ketat, termasuk pembuatan sistem drainase yang efektif dan penanaman vegetasi penahan erosi. Pemerintah provinsi Sumatera Utara telah berjanji untuk meningkatkan anggaran mitigasi bencana, memperluas jaringan pemantauan cuaca, serta melaksanakan edukasi kesiapsiagaan masyarakat di wilayah-wilayah rawan.

Ke depan, BPBD Sumut menekankan pentingnya koordinasi lintas sektoral dalam menghadapi bencana alam. Penguatan unit SAR, peningkatan sarana transportasi darurat, serta penyediaan peralatan keselamatan menjadi prioritas utama. Masyarakat juga diimbau untuk selalu memperhatikan peringatan cuaca dan mengikuti prosedur evakuasi bila terjadi kondisi berbahaya.

Baca juga:

Dengan lima nyawa yang melayang dan enam rumah yang hancur, tragedi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk tidak menanggapi ringan ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrim. Upaya mitigasi, kesiapsiagaan, dan respons cepat harus dijadikan landasan utama dalam mengurangi dampak bencana serupa di masa yang akan datang.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *