Media Pendidikan – 19 April 2026 | Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi gamang dalam memperjuangkan bangsa-bangsa tertindas. Pernyataan tersebut disampaikan pada peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang digelar oleh DPP PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 18 April 2026. Hasto menyoroti terputusnya pemahaman terhadap spirit KAA, yang dulu menjadikan Indonesia pelopor gerakan anti‑kolonialisme dan pembela negara‑negara lemah.
Spirit KAA yang Hilang
Menurut Hasto, KAA menjadi tonggak sejarah penting karena menegaskan posisi Indonesia sebagai mercusuar keadilan dunia. Namun, nilai‑nilai tersebut kini tidak lagi menjadi arus utama dalam kebijakan luar negeri. Ia mengingatkan bahwa dokumen‑dokumen seperti Komunike Bandung memuat prinsip kerja sama politik, ekonomi, dan kebudayaan antarnegara berkembang, serta dukungan tegas terhadap hak‑hak bangsa Arab atas Palestina. Tanpa kembali pada warisan itu, Indonesia berisiko kehilangan pijakan strategis di panggung geopolitik.
Indonesia sebagai Mercusuar Keadilan
Hasto menegaskan bahwa peran Indonesia harus kembali menjadi contoh dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan, baik secara global maupun domestik. Ia menekankan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan sekadar sikap emosional, melainkan mandat konstitusional yang berakar pada semangat Bandung. Dengan mengacu pada konsep “Progressive Geopolitical Co‑existence” Bung Karno, Indonesia seharusnya dapat menyeimbangkan perdamaian damai dengan aksi progresif untuk mengatasi penindasan.
Ancaman Geopolitik dan Kebutuhan Rediscovery
Hasto memperingatkan bahwa dinamika geopolitik dunia kini cenderung anarkis, mengancam posisi Indonesia yang selama ini dikenal “bebas‑aktif”. Ia menilai bahwa tanpa kembali pada akar sejarah KAA, kebijakan luar negeri dapat menjadi terombang‑ambing dan tidak memiliki arah yang jelas. Oleh karena itu, Hasto mengajak partai, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk menelaah kembali arsip‑arsip KAA serta mengintegrasikannya dalam perumusan kebijakan strategis.
Penguatan Dukungan terhadap Bangsa Tertindas
Dalam konteks praktis, Hasto menyinggung pentingnya memperkuat solidaritas dengan negara‑negara yang masih berada di bawah bayang‑bayang kolonialisme modern. Ia mencontohkan dukungan Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina sebagai manifestasi nyata komitmen KAA. Selain itu, Hasto menyoroti peran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang secara konsisten mengangkat spirit KAA dalam diplomasi internasional, termasuk upaya dekolonialisasi ekonomi dan politik.
Kesimpulannya, Hasto mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan “rediscovery” terhadap semangat KAA 1955, menjadikannya landasan moral dan strategis dalam memperjuangkan keadilan bagi bangsa‑bangsa tertindas. Ia menekankan bahwa hanya dengan menghidupkan kembali nilai‑nilai tersebut, Indonesia dapat keluar dari kondisi gamang dan kembali menjadi mercusuar keadilan dunia.


Komentar