Nasional
Beranda » Berita » Hashim Ungkap Asal-usul Makan Bergizi Gratis (MBG): Inisiatif Prabowo Sejak 2006

Hashim Ungkap Asal-usul Makan Bergizi Gratis (MBG): Inisiatif Prabowo Sejak 2006

Hashim Ungkap Asal-usul Makan Bergizi Gratis (MBG): Inisiatif Prabowo Sejak 2006
Hashim Ungkap Asal-usul Makan Bergizi Gratis (MBG): Inisiatif Prabowo Sejak 2006

Media Pendidikan – 20 April 2026 | Jakarta, 19 April 2026 – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap asal‑usul program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sebuah pernyataan resmi yang disampaikan hari ini, Hashim menegaskan bahwa inisiatif tersebut pertama kali digagas oleh Prabowo pada tahun 2006, jauh sebelum program ini diimplementasikan secara luas di seluruh Indonesia.

Sejarah dan Latar Belakang MBG

“MBG pertama kali digagas oleh Presiden Prabowo pada tahun 2006,” kata Hashim Djojohadikusumo dalam konferensi pers di Istana Merdeka. “Kami telah mengembangkan skema pendanaan, kerjasama dengan kementerian terkait, serta jaringan distribusi yang mencakup lebih dari 30.000 sekolah di seluruh Indonesia.”

Baca juga:

Data yang dirilis oleh tim kebijakan menunjukkan bahwa sejak peluncuran pilot pada 2023, MBG telah menyuplai makanan bergizi kepada lebih dari 12 juta anak. Program ini difokuskan pada tiga pilar utama: penyediaan gizi seimbang, edukasi pola makan sehat, dan peningkatan infrastruktur dapur sekolah. Sebagian besar anggaran berasal dari alokasi khusus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kontribusi sektor swasta yang mendukung program melalui program corporate social responsibility (CSR).

Implementasi MBG tidak hanya terbatas pada penyediaan makanan, melainkan juga mencakup pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan mengenai pentingnya gizi dalam proses belajar mengajar. Di beberapa provinsi, seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, program ini juga diintegrasikan dengan upaya peningkatan ketahanan pangan lokal, sehingga bahan makanan yang digunakan bersumber dari petani setempat.

Baca juga:

Sejak peluncuran resmi pada awal 2024, respons masyarakat dan dunia pendidikan cukup positif. Beberapa lembaga penelitian independen mencatat penurunan angka stunting sebesar 1,8% di wilayah yang telah mengadopsi MBG secara penuh. Namun, tantangan logistik dan koordinasi antar‑instansi masih menjadi catatan penting yang harus diatasi untuk memastikan keberlanjutan program ini ke depannya.

Hashim menutup pernyataannya dengan menekankan komitmen pemerintah untuk terus mengoptimalkan MBG. “Kami akan terus memantau pelaksanaan di lapangan, memperbaiki mekanisme distribusi, dan memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapat akses kepada makanan bergizi tanpa memandang lokasi atau kondisi ekonomi,” ujarnya.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *