Nasional
Beranda » Berita » Harga Ayam Hidup Merosot hingga Rp 18.500, Peternak Tuntut Intervensi Pemerintah

Harga Ayam Hidup Merosot hingga Rp 18.500, Peternak Tuntut Intervensi Pemerintah

Harga Ayam Hidup Merosot hingga Rp 18.500, Peternak Tuntut Intervensi Pemerintah
Harga Ayam Hidup Merosot hingga Rp 18.500, Peternak Tuntut Intervensi Pemerintah

Media Pendidikan – 05 April 2026 | Pasca Idul Fitri, pasar ayam hidup di Indonesia mengalami penurunan harga yang signifikan. Menurut data yang beredar di kalangan peternak, harga rata‑rata ayam hidup kini berada di level Rp 18.500 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi yang diperkirakan mencapai Rp 22.000. Penurunan tajam ini menimbulkan tekanan besar bagi peternak mandiri yang sebelumnya mengandalkan margin keuntungan tipis untuk menutupi biaya operasional.

Peternak mengaku berada dalam kondisi rugi sejak harga pasar turun. Dengan harga jual yang lebih rendah daripada Harga Pokok Penjualan (HPP), para produsen harus menanggung selisih yang menggerus laba bahkan menimbulkan defisit. Banyak di antara mereka yang mengoperasikan usaha skala kecil hingga menengah, sehingga tidak memiliki ruang finansial untuk menahan penurunan harga dalam jangka panjang. Akibatnya, sejumlah peternak melaporkan penutupan sementara kandang, pengurangan pakan, hingga pemutusan kontrak pasokan dengan pedagang grosir.

Baca juga:

“Kami sudah mengeluarkan biaya pakan, vaksin, tenaga kerja, dan perawatan kandang, semua itu tidak dapat kami kompensasi dengan harga jual yang hanya Rp 18.500,” ujar salah satu peternak yang tidak ingin disebutkan namanya, mewakili kelompok produsen di wilayah Jawa Barat. Ia menambahkan bahwa permintaan konsumen menurun drastis setelah libur Lebaran, sementara stok ayam hidup yang tersisa di pasar masih melimpah. Situasi ini memaksa para peternak untuk menjual dengan harga yang bahkan berada di bawah titik impas, sehingga menimbulkan kerugian yang mengancam kelangsungan usaha mereka.

Penyebab utama penurunan harga ayam hidup dapat dirangkum dalam beberapa faktor utama:

Baca juga:
  • Oversupply pasca Lebaran: Selama periode Idul Fitri, banyak peternak meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan tinggi, namun konsumsi kembali menurun setelah libur.
  • Kenaikan biaya pakan: Harga jagung, kedelai, dan bahan baku pakan lainnya terus naik akibat fluktuasi pasar internasional, sehingga meningkatkan HPP secara signifikan.
  • Biaya operasional yang tidak dapat ditekan: Biaya listrik, air, dan tenaga kerja tetap tinggi, terutama bagi peternak yang menggunakan sistem intensif.
  • Kurangnya dukungan kebijakan harga: Tanpa mekanisme penetapan harga minimum atau subsidi, peternak terpaksa menjual dengan harga pasar yang fluktuatif.
  • Distribusi logistik yang belum optimal: Kendala transportasi dan distribusi menambah beban biaya, memperparah margin keuntungan.

Keluhan peternak tidak hanya berhenti pada kerugian finansial semata. Mereka menuntut pemerintah untuk mengambil langkah konkret, seperti memberikan subsidi pakan, menetapkan harga dasar ayam hidup, atau membuka jalur pendanaan khusus bagi peternak kecil. Beberapa organisasi peternakan bahkan mengajukan proposal kepada Kementerian Pertanian untuk membentuk skema asuransi harga yang dapat melindungi produsen dari fluktuasi pasar yang ekstrem. Pemerintah diharapkan dapat menilai situasi ini secara menyeluruh dan merancang kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan produsen, pedagang, dan konsumen.

Dengan kondisi pasar yang terus berubah, keberlanjutan usaha peternakan ayam hidup di Indonesia sangat bergantung pada respons kebijakan yang tepat dan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Tanpa intervensi yang memadai, risiko penurunan produksi dan berkurangnya pasokan daging ayam segar dapat berdampak pada harga konsumen di masa depan. Oleh karena itu, upaya kolaboratif antara pemerintah, asosiasi peternak, dan sektor swasta menjadi kunci untuk memulihkan stabilitas harga dan memastikan kesejahteraan peternak sekaligus keamanan pangan nasional.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *