Media Pendidikan – 13 April 2026 | Perang Anglo‑Zanzibar, yang terjadi pada 27 Agustus 1896, tercatat sebagai konflik bersenjata tercepat dalam sejarah manusia—hanya berlangsung sekitar 38 menit. Pertempuran singkat ini melibatkan armada Kerajaan Inggris melawan pasukan Sultan Khalid bin Barghash di kepulauan Zanzibar, lepas pantai Tanzania.
Latar Belakang dan Perebutan Kesultanan
Zanzibar, yang sejak abad ke‑15 menjadi bagian dari Kekaisaran Portugis dan kemudian protektorat Inggris, memiliki nilai strategis dan ekonomi tinggi karena produksi rempah‑rempah serta perdagangan budak. Pada akhir abad ke‑19, Inggris mengendalikan kebijakan luar negeri Zanzibar melalui hak veto atas penunjukan sultan. Setelah Sultan Hamad bin Thuwaini, yang pro‑Inggris, meninggal pada 25 Agustus 1896, Inggris menominasikan Hamad bin Muhammed sebagai pengganti. Namun, Khalid bin Barghash menolak dan mendeklarasikan dirinya sebagai sultan tanpa persetujuan Inggris, menimbulkan ketegangan yang memicu konfrontasi militer.
“Perang Anglo‑Zanzibar berawal ketika terjadinya perebutan suksesi posisi sultan” menjadi inti penyebab konflik, karena Inggris khawatir posisi Khalid yang bersahabat dengan Jerman serta pro‑perbudakan akan mengancam kepentingan kolonial mereka.
Strategi Militer dan Jalannya Pertempuran
Inggris menyiapkan lima kapal perang—HMS Philomel, HMS St. George, HMS Racoon, HMS Thrush, dan HMS Sparrow—serta 150 marinir dan 900 prajurit askari. Di sisi lain, pasukan Khalid terdiri sekitar 2.800 orang, dilengkapi dengan empat meriam, satu baterai pantai, beberapa senapan mesin Maxim, satu senapan Gatling, serta kapal induk HHS Glasgow.
Setelah ultimatum Inggris berakhir pada pukul 09.00, tembakan pertama diluncurkan pada pukul 09.02. Angkatan Laut Inggris menembakkan lebih dari 500 peluru artileri, 4.100 tembakan senapan mesin, dan 1.000 tembakan pistol ke Istana Sultan. Dalam hitungan menit, artileri Zanzibar lumpuh, kapal HHS Glasgow hancur, dan istana runtuh. Pada sekitar pukul 09.37‑09.45, pasukan Khalid menyerah. Korban jiwa di pihak Zanzibar mencapai 500 orang, sementara Inggris hanya mencatat satu pelaut terluka secara tidak sengaja.
Data Pendukung
- Durasi konflik: 38 menit
- Jumlah kapal perang Inggris: 5
- Jumlah marinir Inggris: 150
- Pasukan Zanzibar: ~2.800 tentara
- Korban jiwa: Zanzibar 500, Inggris 1 luka ringan
Perang singkat ini menegaskan dominasi militer Inggris di wilayah Samudra Hindia pada akhir abad ke‑19 dan menandai berakhirnya upaya Khalid untuk mempertahankan kedaulatan Zanzibar secara independen.
Sejak penaklukan tersebut, Zanzibar tetap berada di bawah pengaruh Inggris hingga kemerdekaan Tanzania pada pertengahan abad ke‑20, menjadikan peristiwa 27 Agustus 1896 sebagai contoh ekstrem dari penggunaan kekuatan “diplomasi kapal perang” dalam penyelesaian sengketa politik.


Komentar