Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Hantavirus Lagi Ramai Dibahas, Apakah Bisa Jadi Seperti COVID-19?

Hantavirus Lagi Ramai Dibahas, Apakah Bisa Jadi Seperti COVID-19?

Hantavirus Lagi Ramai Dibahas, Apakah Bisa Jadi Seperti COVID-19?
Hantavirus Lagi Ramai Dibahas, Apakah Bisa Jadi Seperti COVID-19?

Media Pendidikan – 12 Mei 2026 | Ilustrasi Hantavirus. Virus memang selalu jadi hal yang membuat orang tua waspada, apalagi jika berkaitan dengan penyakit menular. Setelah pandemi COVID-19, munculnya kasus virus yang kembali ramai dibahas. Ya, Moms, hantavirus kembali jadi sorotan dunia setelah muncul kasus Andes virus di kapal pesiar MV Hondius pada Minggu (3/5). Virus ini menyebabkan tiga orang meninggal dunia, yakni pasangan warga Belanda dan seorang warga Jerman. Andes virus sendiri merupakan bagian dari hantavirus yang diketahui bisa menular antarmanusia dalam kontak erat.

Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa hewan pengerat, terutama tikus. Penularan umumnya terjadi lewat kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup maupun menyentuh makanan dan permukaan tertentu. Virus ini sebenarnya sudah lama ditemukan di berbagai negara dan memiliki lebih dari 40 jenis. Namun, hanya sekitar 22 jenis yang diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Gejalanya pun beragam, mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan paru dan ginjal pada kasus tertentu.

Baca juga:

Meski kasus Andes virus ramai dibahas, dokter mengingatkan masyarakat untuk tidak panik berlebihan. Ahli infeksi dan penyakit tropis anak IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), Sp.A(K), menjelaskan bahwa hantavirus berbeda dengan virus COVID-19. "Yang jelas, virus hantavirus ini relatif jarang bermutasi, tidak seperti SARS-CoV-2 atau influenza dan HIV. Jadi dibandingkan ketiganya, hantavirus cenderung lebih stabil dan lebih jarang mengalami mutasi," jelasnya dalam media briefing, Jumat (8/5).

Baca juga:

Di Indonesia sendiri, hantavirus juga pernah ditemukan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat 23 kasus hantavirus sejak 2015 yang tersebar di sembilan provinsi, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Banten, hingga NTT. Risiko hantavirus pada anak memang lebih rendah dibanding dewasa, sekitar 3–10 persen. Namun, risiko tetap ada, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh lemah atau memiliki penyakit penyerta seperti gangguan ginjal.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *