Media Pendidikan – 23 April 2026 | Jakarta, 23 April 2026 – Profesor Arif R. Aris, Guru Besar Universitas Pertahanan Nasional (Unhan), menyampaikan bahwa pola pertahanan dunia kini mengalami transformasi signifikan. Menurutnya, ancaman konvensional yang selama ini dominan mulai digantikan oleh ancaman hibrida, siber, dan berbasis data. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan Okezone pada Senin (23/04/2026).
Aris menegaskan, “Lanskap pertahanan global telah bergeser drastis dari ancaman konvensional menuju ancaman hibrida, siber, dan berbasis data.” Ia menambahkan bahwa perubahan ini tidak hanya memengaruhi strategi militer tradisional, tetapi juga menuntut adaptasi cepat di sektor keamanan siber, intelijen, serta kebijakan nasional.
Guru Besar tersebut juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Kita tidak dapat lagi mengandalkan pendekatan militer semata. Pemerintah, industri teknologi, akademisi, dan masyarakat harus bersinergi untuk membangun pertahanan siber yang tangguh,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa serangan siber dapat melumpuhkan operasi militer sekaligus mengganggu stabilitas ekonomi, sehingga strategi keamanan harus bersifat terintegrasi.
Dalam rangka menanggapi pergeseran ini, Unhan berencana memperluas kurikulum pendidikan pertahanan dengan menambahkan modul tentang keamanan siber, analisis data, dan operasi hibrida. Program tersebut akan melibatkan kerja sama dengan lembaga riset teknologi serta perusahaan keamanan siber terkemuka. Tujuannya adalah mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai taktik perang tradisional, tetapi juga kompetensi digital yang relevan dengan tantangan era modern.
Aris juga mengingatkan bahwa ancaman siber tidak mengenal batas geografis. “Siber bersifat borderless, artinya serangan dapat datang dari mana saja, kapan saja, dan dengan biaya yang relatif rendah,” kata beliau. Oleh karena itu, kebijakan pertahanan harus bersifat proaktif, mengantisipasi potensi serangan sebelum terjadi, bukan sekadar responsif setelah dampak muncul.
Penekanan pada data juga menjadi poin penting dalam pernyataan Aris. Ia menekankan bahwa kemampuan mengolah dan melindungi data menjadi aset strategis utama. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi pola serangan serta sistem enkripsi mutakhir menjadi bagian dari upaya memperkuat pertahanan nasional.
Dengan latar belakang perubahan dinamika ancaman, Unhan berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas riset dan pengembangan di bidang siber. Harapannya, Indonesia dapat menjadi pionir dalam menciptakan ekosistem pertahanan yang adaptif, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan keamanan di era digital.


Komentar