Nasional
Beranda » Berita » Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Maluku Utara Picu Peringatan Tsunami, Satu Korban Tewas, Peringatan Dicabut

Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Maluku Utara Picu Peringatan Tsunami, Satu Korban Tewas, Peringatan Dicabut

Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Maluku Utara Picu Peringatan Tsunami
Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Maluku Utara Picu Peringatan Tsunami

Media Pendidikan – 03 April 2026 | Pada Kamis, 2 April 2026, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang Laut Maluku Utara, tepatnya di lepas pantai Pulau Ternate. Kedalaman gempa tercatat 35 kilometer, menempatkannya pada zona subduksi yang aktif di wilayah Cincin Api Pasifik. Guncangan tersebut langsung dirasakan oleh warga di wilayah Ternate, Manado, serta sejumlah daerah di Sulawesi Utara.

Kekuatan Gempa dan Dampak Awal

Sejumlah stasiun seismik mencatat adanya lebih dari lima puluh gempa susulan (aftershock) dalam beberapa jam pertama, dengan yang terbesar mencapai magnitudo 5,8. Getaran kuat menyebabkan kerusakan pada bangunan-bangunan ringan, terutama di kawasan perkantoran dan fasilitas olahraga di Manado. Sebuah bangunan milik otoritas olahraga lokal runtuh sebagian, menewaskan satu orang pekerja konstruksi yang sedang melakukan perbaikan.

Baca juga:

Peringatan Tsunami dan Respons BMKG

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) segera mengeluarkan peringatan tsunami setelah model awal memperkirakan potensi gelombang setinggi 0,5 hingga 3 meter. Peringatan tersebut mencakup pantai-pantai di Indonesia, Filipina, dan Malaysia dalam radius 1.000 kilometer dari pusat gempa. Observasi lapangan mencatat gelombang tsunami kecil muncul di lima lokasi, dengan tinggi maksimum 0,75 meter (sekitar 2,46 kaki) di wilayah North Minahasa, Sulawesi Utara.

Setelah melakukan pemantauan lebih lanjut, BMKG menilai bahwa energi yang tersisa tidak cukup untuk menghasilkan tsunami berbahaya. Pada pagi hari yang sama, otoritas tersebut mencabut peringatan tsunami, menegaskan bahwa potensi kerusakan lanjutan sangat rendah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menginstruksikan warga untuk tetap waspada, namun menekankan bahwa situasi kini berada di bawah kontrol.

Baca juga:

Kerusakan dan Korban

Selain korban meninggal akibat runtuhnya bangunan, beberapa rumah di daerah pesisir mengalami kerusakan struktural ringan. Pihak kepolisian setempat mencatat bahwa sebagian besar kerusakan tidak mengancam keselamatan jiwa, namun kebutuhan akan bantuan darurat tetap mendesak. Tim SAR dan relawan lokal bergerak cepat untuk mengevakuasi penduduk yang berada di zona rawan longsor dan mengamankan area pantai yang sempat terjangkit gelombang kecil.

Tanggapan Internasional dan Penutup

Otoritas tsunami di Amerika Serikat sempat mengeluarkan peringatan bahaya di wilayah Indonesia, Filipina, dan Malaysia, namun kemudian menghapus peringatan tersebut setelah data terbaru menunjukkan gelombang tidak signifikan. Kejadian ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi antara lembaga nasional dan internasional.

Baca juga:

Gempa di Laut Maluku Utara menambah catatan panjang Indonesia sebagai negara yang terletak di zona seismik paling aktif di dunia. Meskipun peringatan tsunami berhasil dicabut dengan cepat, insiden ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, terutama di daerah pesisir. Pemerintah berjanji akan memperkuat infrastruktur bangunan publik serta meningkatkan kapasitas monitoring seismik guna meminimalkan risiko di masa mendatang.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *