Media Pendidikan – 24 April 2026 | Jakarta, 23 April 2026 – Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyoroti tantangan strategis yang dihadapi Filipina sebagai ketua ASEAN tahun 2026. Dalam dialog publik bertajuk “Forging Ahead in Crisis: Indonesia-Philippines Relations, ASEAN Chairship, and Regional Resilience” yang diselenggarakan oleh FPCI bersama Kedutaan Besar Filipina di Auditorium Yustinus, Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Dino menegaskan bahwa masa transisi menuju tatanan dunia baru menambah beban kepemimpinan regional.
Agenda Keketuaan Filipina 2026
Keketuaan Filipina di ASEAN 2026 mengusung tema “Navigating Our Future Together”, sebuah seruan kolektif untuk aksi bersama. Menteri Luar Negeri Filipina, Ma. Theresa P. Lazaro, menjelaskan bahwa tema tersebut mencerminkan komitmen negara kepulauan itu untuk menuntun ASEAN menuju stabilitas di tengah dunia yang terfragmentasi. “Upaya untuk perdamaian mendorong keketuaan ASEAN Filipina tahun ini, dengan tema ‘Navigating Our Future Together’ adalah seruan kolektif untuk bertindak,” kata Lazaro.
Acara dialog publik tersebut merupakan bagian dari rangkaian ASEAN For The Peoples Week (AFPW) 2026 yang akan berlangsung di Cebu, Filipina, 5–8 Mei 2026, bersamaan dengan KTT ASEAN ke-48. AFPW 2026 menampilkan empat pilar utama: ASEAN Journalist and Digital Storyteller Fellowship, Southeast Asia Lecture Hall, Track 1.5 Dialogue of ASEAN Community Building, serta ASEAN Community Town Hall. Menurut Dino, platform ini bertujuan memfasilitasi pertemuan masyarakat ASEAN di tengah pertemuan puncak tahunan, memperkuat suara rakyat dalam proses pengambilan kebijakan.
Dalam konteks geopolitik, rivalitas antara Amerika Serikat, China, serta kepentingan regional lainnya menambah kompleksitas tugas ketua. Dino menekankan bahwa ASEAN harus memanfaatkan peluang di tengah risiko, mengoptimalkan kerjasama ekonomi, keamanan, dan kebijakan luar negeri yang adaptif. “Di FPCI, kami tidak hanya melihat risiko tetapi juga peluang bagi ASEAN,” tuturnya.
Data resmi menunjukkan bahwa selama kepemimpinan Filipina, agenda prioritas meliputi peningkatan konektivitas infrastruktur, kerjasama pertahanan maritim, serta program ekonomi digital yang menargetkan pertumbuhan produk domestik regional sebesar 4,5% pada 2026-2028. Selain itu, AFPW 2026 akan menyertakan lebih dari 200 jurnalis dan akademisi dari seluruh Asia Tenggara, memperkuat pertukaran informasi dan narasi bersama.
Dengan tantangan yang meliputi dinamika geopolitik, perubahan iklim, serta kebutuhan akan integrasi ekonomi yang lebih dalam, keberhasilan kepemimpinan Filipina akan menjadi penentu arah ASEAN di masa depan. Semua pihak, termasuk negara non‑anggota, diharapkan memberikan dukungan konstruktif untuk menjaga stabilitas kawasan.


Komentar