Hiburan
Beranda » Berita » Film “Monster Pabrik Rambut” Mengangkat Horor Overwork dan Eksploitasi Pekerja

Film “Monster Pabrik Rambut” Mengangkat Horor Overwork dan Eksploitasi Pekerja

Film "Monster Pabrik Rambut" Mengangkat Horor Overwork dan Eksploitasi Pekerja
Film "Monster Pabrik Rambut" Mengangkat Horor Overwork dan Eksploitasi Pekerja

Media Pendidikan – 02 Juni 2026 | RRI.CO.ID, Jakarta – Film horor Monster Pabrik Rambut mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti budaya kerja berlebihan. Isu tersebut dikemas lewat pendekatan fantasi dan body horror yang menjadi elemen utama dalam film garapan sutradara Edwin.

Edwin menjelaskan bahwa horor sejak awal memang kerap digunakan sebagai medium kritik sosial. Menurutnya, ketakutan dalam film horor lahir dari keresahan manusia terhadap situasi nyata yang terjadi di masyarakat.

Baca juga:

“Ketika kita membicarakan isu sosial yang kontekstual, khususnya overwork dan sistem yang tidak manusiawi lagi dalam cara kita bekerja. Itu sendiri sudah menjadi sebuah model besar untuk diterjemahkan ke dalam film horor,” kata Edwin.

Edwin mencontohkan film-film klasik seperti Dracula hingga Nosferatu yang muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial pada era revolusi industri.

Penulis skenario Eka Kurniawan menyebut ide film ini lahir dari keresahan terhadap realitas kerja yang dekat dengan masyarakat. Ia dan Edwin sejak awal ingin membuat film horor yang tidak bergantung pada mitologi atau sosok gaib, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Baca juga:

“Sehidup sehari-hari juga bisa cukup sangat horror. Pekerjaan kita kan macam-macam ya,” kata Eka.

Edwin juga menjelaskan alasan memilih rambut sebagai elemen utama dalam cerita. Menurutnya, rambut memiliki hubungan erat dengan kondisi fisik dan mental manusia.

“Rambut sendiri buat saya spesial. Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih, jadi respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut,” kata Edwin.

Baca juga:

Monster Pabrik Rambut sebelumnya telah menjalani world premiere di Berlinale 2026. Selain disutradarai Edwin, film ini diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, dengan naskah yang ditulis Eka Kurniawan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *