Gaya Hidup
Beranda » Berita » Fatherless: Ketika Anak Tumbuh Tanpa Kehadiran Emosional Ayah

Fatherless: Ketika Anak Tumbuh Tanpa Kehadiran Emosional Ayah

Fatherless: Ketika Anak Tumbuh Tanpa Kehadiran Emosional Ayah
Fatherless: Ketika Anak Tumbuh Tanpa Kehadiran Emosional Ayah

Media Pendidikan – 17 Mei 2026 | Ketika anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik karena perceraian, kematian, atau karena ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional, maka hal ini dapat menyebabkan luka emosional pada anak tersebut.

Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan anak dengan ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan emosi, rasa percaya diri, cara anak membangun relasi, hingga kesehatan mentalnya di masa dewasa.

Baca juga:

Michael E. Lamb dalam buku The Role of the Father in Child Development (2010) menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil, terutama hubungan dengan orang tua, memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan kepribadian anak.

Ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping, pengasuh, pelindung, pengajar, dan sumber dukungan emosional bagi anak.

Berdasarkan hasil olahan data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik Maret 2024, sebanyak 15,9 juta anak Indonesia berpotensi mengalami fatherless, yang setara dengan sekitar 20,1 persen dari total anak di Indonesia.

Baca juga:

Luka emosional akibat fatherless sering muncul dalam bentuk yang tidak disadari, seperti kekosongan batin, rasa ditolak, tidak dicintai, atau merasa tidak cukup berharga.

Sebagian besar anak yang tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional, seperti ayah yang sibuk bekerja, mudah marah, dingin, atau memilih menjauh setelah perceraian, mengalami kehilangan rasa aman, dukungan emosional, perhatian, dan keterikatan yang penting dalam perkembangan anak.

Michael E. Lamb juga menjelaskan bahwa kualitas hubungan ayah dengan anak jauh lebih penting dibanding sekadar keberadaan biologis semata.

Baca juga:

Banyak anak yang tumbuh dengan perasaan harus selalu kuat sendiri karena sejak kecil terbiasa menghadapi masalah tanpa dukungan emosional dari ayah.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan ayah yang hadir secara emosional, seperti ayah yang mendengarkan cerita anak, memberi dukungan emosional, dan terlibat dalam kehidupan anak, memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan kemampuan mengelola emosi yang lebih baik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *