Media Pendidikan – 11 April 2026 | Jakarta – Di tengah ragam kuliner tradisional Betawi, es selendang mayang kembali menjadi pilihan utama sebagai pelepas dahaga sekaligus saksi bisu sejarah romantis masyarakat setempat. Minuman ini terbuat dari tepung beras yang dicampur santan dan gula merah, menghasilkan tekstur kenyal berlapis tiga warna yang menyerupai selendang penari.
Asal‑Usul dan Legenda
Warna, Tekstur, dan Harga
Setiap lapisan es selendang mayang memiliki makna budaya. Merah melambangkan pengaruh Tiongkok, kuning mencerminkan tradisi Melayu, dan hijau mengacu pada jejak Arab dalam komunitas Betawi. Tekstur kenyal berasal dari tepung beras yang dipanggang dalam loyang berlapis, kemudian dipotong memanjang menyerupai selendang, dan akhirnya dipotong kecil berbentuk wajik. Di pasar tradisional atau pedagang kaki lima, harga satu porsi biasanya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000. Di kafe modern dengan penyajian lebih estetis, harga dapat naik menjadi Rp15.000 hingga Rp25.000.
Kebangkitan di Era Modern
Popularitas es selendang mayang mulai menanjak pada tahun 1940-an, namun sempat menghilang selama puluhan tahun. Pada era 1990-an, minuman ini kembali muncul, terutama pada acara hajatan seperti pernikahan Betawi, takjil Ramadan, dan perayaan Lebaran Betawi yang diresmikan oleh Gubernur Pramono Anung. Kehadiran selendang mayang dalam upacara tradisional menandakan kehangatan, kemeriahan, serta identitas budaya masyarakat Betawi.
Selain menyegarkan, es selendang mayang juga dapat mengurangi rasa lapar karena bahan dasarnya berupa karbohidrat kompleks dari tepung beras. Keunikan rasa manis alami gula merah yang berpadu dengan gurih santan menjadikannya pilihan tepat untuk mengatasi dahaga di tengah teriknya ibukota.
Seiring dengan meningkatnya minat generasi muda terhadap kuliner heritage, sejumlah kafe kreatif di Jakarta mulai mengolah es selendang mayang dengan variasi topping modern, seperti buah segar, sirup pandan, atau krim keju, tanpa menghilangkan ciri khas lapisan tiga warna. Upaya ini diharapkan dapat melestarikan warisan kuliner sekaligus menarik konsumen baru.
Dengan nilai historis yang kuat serta kemampuan beradaptasi pada tren kuliner masa kini, es selendang mayang bukan sekadar minuman pelepas dahaga, melainkan simbol kebanggaan budaya Betawi yang terus hidup di tengah dinamika kota.


Komentar