Media Pendidikan – 10 April 2026 | Jakarta, Republika.co.id – Di tengah percepatan evolusi industri yang menuntut adaptasi cepat, Erlan Bachtiar muncul sebagai sosok pemimpin muda yang memegang kendali atas agenda transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. Sebagai kepala eksekutif sebuah institusi yang mengusung konsep Kampus Digital Bisnis, ia menekankan bahwa perubahan bukan lagi pilihan melainkan keharusan untuk bertahan dan bersaing.
Visi Transformasi Digital
Erlan menegaskan bahwa digitalisasi harus meresap ke seluruh lapisan operasional kampus, mulai dari proses administrasi, pembelajaran, hingga kolaborasi dengan industri. Visi utamanya adalah menciptakan ekosistem yang mengintegrasikan teknologi terkini—seperti kecerdasan buatan, analitik data, dan platform pembelajaran daring—sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, melainkan juga pencipta nilai bisnis.
Langkah Konkret di Kampus Digital Bisnis
Di bawah kepemimpinan Erlan, institusi tersebut meluncurkan tiga program utama. Pertama, penerapan sistem manajemen akademik berbasis cloud yang mempermudah registrasi, penilaian, dan pelacakan progres mahasiswa secara real‑time. Kedua, pembentukan laboratorium inovasi yang dilengkapi dengan perangkat IoT, robotik, dan software analitik untuk mendukung proyek lintas disiplin antara jurusan bisnis, teknik, dan ilmu komputer. Ketiga, peluncuran inkubator start‑up yang memberi mahasiswa akses pendanaan awal, mentoring dari praktisi industri, serta jaringan pasar digital.
Semua inisiatif tersebut dirancang agar selaras dengan kebutuhan industri yang semakin menuntut tenaga kerja yang menguasai kompetensi digital. Erlan menambahkan bahwa kurikulum kini diperkaya dengan mata kuliah seperti “Strategi Digital Marketing”, “Data‑Driven Decision Making”, dan “Manajemen Risiko Siber”.
Dampak terhadap Mahasiswa dan Industri
Sejak program transformasi digital dijalankan, tingkat partisipasi mahasiswa dalam proyek berbasis teknologi meningkat 45 % dalam satu tahun pertama. Selain itu, lebih dari 30 start‑up yang dibentuk oleh alumni kampus ini berhasil memperoleh pendanaan tahap awal dari investor lokal maupun internasional. Industri juga merespon positif; beberapa perusahaan multinasional telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk program magang berbasis digital, memperluas peluang kerja bagi lulusan.
Erlan menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan. Timnya secara rutin mengumpulkan data kepuasan pengguna, performa sistem, dan tren pasar untuk menyesuaikan strategi. Pendekatan berbasis data ini memastikan bahwa perubahan tidak bersifat sementara, melainkan menjadi budaya institusi.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Erlan menyimpulkan bahwa transformasi digital bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan perubahan paradigma yang menempatkan inovasi sebagai inti dari pendidikan bisnis. Dengan menumbuhkan mentalitas “digital‑first”, kampus yang dipimpinnya siap menjadi contoh bagi institusi lain di Indonesia.
Ke depan, Erlan berencana memperluas jaringan kampus digital ke kota‑kota lain, sekaligus meluncurkan program sertifikasi digital yang diakui secara nasional. Ia percaya bahwa ekosistem pendidikan yang terintegrasi secara digital akan mempercepat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan menyiapkan generasi pemimpin bisnis yang tangguh dalam era teknologi.


Komentar