Media Pendidikan – 04 April 2026 | Menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir menegaskan bahwa pemulihan prestasi olahraga nasional tak lepas dari peran sentral ekosistem sekolah. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Jakarta, ia menguraikan arah kebijakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang kini memusatkan perhatian pada pembangunan fondasi olahraga sejak usia dini.
Thohir menyoroti fakta bahwa sebagian besar atlet berprestasi di tingkat internasional memulai latihan mereka di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, memperkuat infrastruktur, kurikulum, serta kompetensi guru dan pelatih di tingkat pendidikan dasar dan menengah menjadi prioritas utama. “Jika kita ingin mencetak atlet berkelas dunia, prosesnya harus dimulai jauh sebelum mereka masuk ke perguruan tinggi atau lembaga kepelatihan khusus,” ujar Menteri.
Program baru yang disebut “Olahraga di Sekolah” mencakup tiga pilar utama: penyediaan fasilitas olahraga yang memadai, integrasi kurikulum olahraga ke dalam mata pelajaran wajib, serta peningkatan kualitas tenaga pendidik melalui beasiswa pelatihan dan sertifikasi. Seluruh sekolah negeri dan swasta di Indonesia diproyeksikan akan menerima audit fasilitas olahraga pada akhir tahun ini, dengan target renovasi atau pembangunan lapangan, gym, serta ruang serbaguna dalam dua tahun ke depan.
Berikut ini langkah‑langkah konkret yang akan diimplementasikan:
- Audit menyeluruh terhadap kondisi fasilitas olahraga di semua sekolah, termasuk pemeriksaan keamanan dan kelayakan penggunaan.
- Penyediaan dana alokasi khusus melalui APBN dan skema kerjasama dengan sektor swasta untuk renovasi atau pembangunan fasilitas baru.
- Integrasi mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan (PKK) ke dalam kurikulum nasional, menambah jam pelajaran menjadi minimal tiga kali per minggu.
- Pelatihan intensif bagi guru olahraga melalui program beasiswa pelatihan di pusat-pusat keunggulan olahraga, baik di dalam maupun luar negeri.
- Pembentukan kompetisi tahunan antar‑sekolah mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional, yang menjadi ajang seleksi bakat dan pemberian beasiswa atletik.
Selain aspek fisik, Kemenpora juga menekankan pentingnya penciptaan budaya olahraga yang inklusif. “Kami tidak hanya mengejar prestasi medali, tetapi juga kesehatan dan karakter generasi muda. Olahraga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari mereka,” tegas Erick Thohir.
Program ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk Asosiasi Sekolah Menengah Atas (ASMA) yang menyatakan kesiapan mereka untuk berkolaborasi. Sekolah‑sekolah di beberapa provinsi, seperti Jawa Barat dan DKI Jakarta, telah melakukan pilot project dengan mengoptimalkan lapangan basket dan futsal serta mengadakan pelatihan dasar bagi guru olahraga.
Namun, tantangan tetap ada. Keterbatasan anggaran, terutama di daerah terpencil, serta kurangnya tenaga pengajar yang memiliki kompetensi khusus menjadi hambatan utama. Untuk mengatasinya, Kemenpora berencana mengoptimalkan program digitalisasi, menyediakan modul e‑learning bagi guru yang tidak dapat mengikuti pelatihan tatap muka.
Para pakar pendidikan olahraga menilai langkah ini tepat waktu. Dr. Siti Aisyah, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, menyatakan, “Pendidikan olahraga di sekolah memiliki potensi besar untuk menumbuhkan minat dan bakat sejak dini, sekaligus menurunkan angka obesitas anak. Kebijakan ini selaras dengan agenda nasional kesehatan dan pendidikan.”
Jika berhasil, dampak positifnya tidak hanya terbatas pada peningkatan jumlah atlet berprestasi, melainkan juga pada peningkatan kesehatan umum masyarakat. World Health Organization mencatat bahwa keterlibatan aktif dalam olahraga sejak usia sekolah dapat menurunkan risiko penyakit tidak menular hingga 30 persen.
Erick Thohir menutup konferensi dengan menegaskan komitmen pemerintah untuk memonitor pelaksanaan program secara berkala. Setiap semester, Kemenpora akan merilis laporan perkembangan yang mencakup jumlah fasilitas yang telah direnovasi, jumlah guru yang tersertifikasi, serta prestasi olahraga tingkat sekolah yang diraih di tingkat provinsi dan nasional.
Dengan landasan kebijakan yang kuat, harapan besar tertuju pada generasi muda Indonesia untuk tumbuh menjadi atlet berprestasi sekaligus warga yang sehat dan berkarakter. Keberhasilan program ini akan menjadi tolak ukur sejauh mana pemerintah mampu mengintegrasikan olahraga ke dalam sistem pendidikan, menjadikan olahraga bukan lagi sekadar ekstrakurikuler, melainkan bagian integral dari pembentukan karakter bangsa.


Komentar