Media Pendidikan – 20 Mei 2026 | Rencana ekspor sawit wajib melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendapat kritik dari petani sawit. Para petani khawatir bahwa rencana ini akan memicu monopoli dan melemahkan posisi mereka di pasar.
POPSI (Perhimpunan Petani Sawit Indonesia) menolak rencana ini karena khawatir akan memicu monopoli, rente, dan melemahkan petani sawit. “Kami khawatir bahwa rencana ini akan membuat petani sawit kehilangan kontrol atas harga dan pasar sawit,” kata Ketua POPSI.
Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen sawit terbesar di dunia, dengan produksi sawit mencapai lebih dari 40 juta ton per tahun. Namun, rencana ekspor sawit wajib melalui BUMN dapat mempengaruhi harga sawit dan meningkatkan biaya produksi bagi petani sawit.
Para petani sawit juga khawatir bahwa rencana ini akan membuat mereka kehilangan akses ke pasar internasional. “Kami khawatir bahwa rencana ini akan membuat kami kehilangan kesempatan untuk menjual sawit kami ke pasar internasional,” kata seorang petani sawit.


Komentar