Media Pendidikan – 07 April 2026 | Aris Indarto, mantan bek Timnas Indonesia yang pernah menorehkan jejak di kancah internasional, kembali menonjolkan suaranya lewat sebuah peringatan penting kepada pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Indarto menyoroti potensi risiko bila pasangan bek tengah Jay Idzes dan Elkan Baggott dijadikan pilihan utama dalam formasi defensif tim nasional. Ia menekankan pentingnya keseimbangan dan keserasian dalam susunan bek untuk menghadapi tantangan kompetisi regional maupun internasional.
John Herdman, yang baru saja ditunjuk sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia, membawa pengalaman luas dari dunia sepak bola internasional, termasuk keberhasilannya bersama tim Kanada. Namun, adaptasi taktiknya di Asia Tenggara masih berada dalam tahap awal, sehingga masukan dari mantan pemain berpengalaman seperti Indarto menjadi sangat berharga. Menurut Indarto, keputusan strategis pada lini pertahanan dapat menentukan hasil akhir dalam pertandingan-pertandingan krusial, terutama menjelang kualifikasi Piala Asia dan laga persahabatan melawan tim-tim kuat.
Jay Idzes, bek berusia 21 tahun, merupakan produk akademi Ajax di Belanda. Ia menonjol dengan kemampuan membaca permainan, kecepatan dalam menutup ruang, dan tendangan panjang yang cukup mematikan. Saat ini, Idzes berkontrak dengan tim junior Ajax dan sering dipanggil untuk melengkapi skuad senior timnas Indonesia. Di sisi lain, Elkan Baggott, pemain berusia 23 tahun yang memiliki darah Indonesia dan Inggris, berkarier di Ipswich Town. Baggott dikenal dengan fisik kuat, duel udara yang dominan, serta kemampuan mengatur tempo permainan dari lini belakang.
Meski keduanya memiliki kualitas individu yang mumpuni, Indarto mengingatkan bahwa kombinasi mereka di lini tengah pertahanan belum terbukti optimal di level internasional. “Kedua pemain memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Idzes lebih mengandalkan kecepatan dan mobilitas, sementara Baggott mengandalkan kekuatan fisik dan kehadiran di udara. Jika dipasangkan tanpa adanya penyesuaian taktik yang matang, mereka dapat menciptakan celah yang dimanfaatkan lawan,” ujarnya.
Lebih jauh, Indarto menyoroti kurangnya pengalaman bermain bersama secara reguler. “Kedua pemain belum memiliki riwayat bermain berpasangan dalam kompetisi klub atau internasional yang signifikan. Keterpaduan defensif tidak hanya soal kualitas individu, melainkan juga pemahaman positional dan komunikasi yang terbentuk dari waktu bermain bersama,” tegasnya.
Untuk mengatasi potensi masalah tersebut, Indarto menyarankan beberapa alternatif kombinasi bek yang lebih seimbang. Di antara opsi-opsi tersebut, ia menyoroti kehadiran pemain-pemain berpengalaman yang telah terbukti konsistensi di level senior, seperti:
- Rizky Dwi Pangestu – bek kanan yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan crossing yang baik.
- Riki Nurcahyo – bek kiri dengan kemampuan bertahan solid serta kontribusi dalam serangan.
- Rizky Ridho – bek tengah yang memiliki pengalaman di Liga 1 Indonesia dan kemampuan duel satu lawan satu yang kuat.
- Ardi Supriatna – veteran bek tengah yang masih mampu menambah kestabilan dan kepemimpinan di lapangan.
Pilihan tersebut memungkinkan Herdman untuk menciptakan lini belakang yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga terkoordinasi dengan baik dalam transisi pertahanan-serangan. Kombinasi antara Idzes yang lincah dengan bek berpengalaman dapat menutup celah yang mungkin muncul akibat perbedaan gaya bermain Baggott.
Beberapa analis sepak bola lokal juga menanggapi pernyataan Indarto dengan antusias. Seorang pengamat taktik, Dedi Santoso, berpendapat, “Peringatan ini sangat tepat. Di era modern, fleksibilitas taktik menjadi kunci. Jika Herdman mengabaikan aspek keseimbangan, tim berisiko kebobolan pada fase transisi lawan yang cepat.”
Herdman sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai saran tersebut, namun ia diketahui tengah mempelajari kekuatan serta kelemahan skuadnya melalui sesi latihan intensif di Jakarta. Dalam beberapa pekan ke depan, timnas Indonesia dijadwalkan menghadapi beberapa laga persahabatan melawan negara-negara Asia Tenggara sebagai ujian pertama taktik baru.
Pentingnya keputusan ini tidak dapat diremehkan, mengingat kualitas lawan yang semakin meningkat. Timnas Indonesia kini berada pada persimpangan jalan, di mana keputusan strategis pada lini pertahanan dapat memperkuat atau melemahkan peluang meraih hasil positif di kompetisi internasional. Dengan masukan konstruktif dari tokoh berpengalaman seperti Aris Indarto, diharapkan John Herdman dapat merumuskan formasi yang optimal, mengoptimalkan potensi pemain muda sekaligus memanfaatkan pengalaman pemain senior.
Kesimpulannya, peringatan Indarto menegaskan bahwa pemilihan duet bek bukan sekadar mengandalkan nama besar, melainkan harus mempertimbangkan keselarasan taktik, pengalaman bersama, serta kemampuan beradaptasi dalam situasi pertandingan yang dinamis. Pilihan yang bijak akan memperkuat fondasi defensif Timnas Indonesia, meningkatkan peluang meraih prestasi di panggung internasional.


Komentar