Internasional
Beranda » Berita » Dubes UEA Tegaskan Konflik Iran Bukan Berdasarkan Agama, Melainkan Keamanan dan Kedaulatan

Dubes UEA Tegaskan Konflik Iran Bukan Berdasarkan Agama, Melainkan Keamanan dan Kedaulatan

Dubes UEA Tegaskan Konflik Iran Bukan Berdasarkan Agama
Dubes UEA Tegaskan Konflik Iran Bukan Berdasarkan Agama

Media Pendidikan – 08 April 2026 | Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, menegaskan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara tetangga di Timur Tengah tidak dapat dikategorikan sebagai konflik agama. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (8/4) di kediamannya di Jakarta, menanggapi narasi yang beredar bahwa aksi militer Tehran bersifat religius.

Sejak akhir Februari lalu, Iran melancarkan serangkaian serangan balasan setelah mengalami serangan udara yang diyakini dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan balasan tersebut menargetkan pangkalan militer AS dan instalasi strategis di beberapa negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Yordania. Menurut pemerintah Iran, operasi tersebut bertujuan melindungi kedaulatan nasional dan menegakkan hukum internasional.

Baca juga:

AlDhaheri menolak keras upaya mengaitkan konflik tersebut dengan agama. “Oleh karena itu, izinkan saya menegaskan satu hal dengan sangat jelas, ini bukan konflik agama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa membingkai situasi sebagai perang agama merupakan upaya menyesatkan yang tidak mencerminkan realitas di lapangan. Menurutnya, inti permasalahan terletak pada isu keamanan, kedaulatan, dan pelanggaran hukum internasional, bukan perbedaan kepercayaan.

Dalam penjelasannya, Dubes UEA menyoroti statistik terbaru yang menunjukkan distribusi serangan Iran. Ia menyebutkan bahwa sekitar 85% rudal dan drone yang diluncurkan diarahkan ke negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) serta Yordania, sementara hanya sekitar 15% yang menargetkan Israel. Data tersebut menguatkan argumen bahwa mayoritas serangan diarahkan pada negara yang tidak memulai konflik, melainkan menjadi sasaran balasan Iran.

AlDhaheri juga mengajak negara-negara mayoritas Muslim, termasuk Republik Indonesia, untuk menilai situasi Timur Tengah secara objektif, tanpa terpengaruh oleh narasi emosional yang bertentangan dengan fakta. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang dalam menanggapi dinamika geopolitik yang sedang berlangsung, mengingat dampak yang luas terhadap keamanan regional.

Baca juga:

Selain pernyataan dari Dubes UEA, Dubes Bahrain untuk Indonesia, Ahmed Abdulla Alhajeri, menambahkan bahwa serangan Iran tidak hanya menargetkan instalasi militer yang tidak aktif, melainkan juga infrastruktur sipil penting. Menurut Alhajeri, lebih dari seribu drone dan ratusan rudal Iran menghantam fasilitas seperti rumah, hotel, pusat perbelanjaan, pelabuhan, bandara, instalasi desalinasi air, serta fasilitas energi. Bahkan misi diplomatik dan konsuler turut menjadi sasaran.

Akibat serangan tersebut, terjadi korban jiwa di negara-negara GCC dan Yordania, serta ratusan orang mengalami luka-luka. Kerusakan material dan struktural pada fasilitas publik juga signifikan, menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang berat bagi negara-negara yang terkena dampak. Alhajeri menegaskan bahwa agresi Iran telah menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang serius, memperparah ketegangan di kawasan.

Pernyataan kedua Dubes tersebut menggambarkan kompleksitas konflik yang melibatkan dimensi militer, politik, dan kemanusiaan. Meskipun Iran mengklaim bahwa serangannya bersifat defensif, fakta bahwa infrastruktur sipil juga menjadi sasaran menimbulkan pertanyaan mengenai proporsionalitas dan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.

Baca juga:

Para pengamat menilai bahwa narasi konflik berbasis agama dapat memperkeruh situasi, memicu polarisasi di antara masyarakat Muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan media untuk menyajikan informasi yang faktual dan terverifikasi, guna menghindari penyebaran misinformasi yang dapat memicu sentimen kebencian.

Secara keseluruhan, pernyataan Dubes UEA menegaskan bahwa konflik di Iran dan negara-negara tetangganya merupakan persoalan keamanan dan kedaulatan, bukan pertempuran antaragama. Dengan menekankan pentingnya penilaian yang berimbang dan berbasis fakta, diharapkan komunitas internasional dapat mencari solusi diplomatik yang mengedepankan stabilitas regional dan melindungi warga sipil dari dampak perang yang semakin meluas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *