Media Pendidikan – 08 Juni 2026 | Tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto dalam satu setengah tahun pertama pemerintahannya telah memicu perdebatan publik.
Sebagian kalangan menilai intensitas perjalanan tersebut berlebihan di tengah berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah berargumen bahwa situasi geopolitik yang semakin dinamis, kebutuhan memperkuat kerja sama pertahanan, serta upaya menarik investasi menuntut keterlibatan aktif presiden di berbagai forum internasional.
Richard N. Haass dalam bukunya Foreign Policy Begins at Home berargumen bahwa kekuatan dan pengaruh suatu negara di dunia internasional pada akhirnya sangat ditentukan oleh kondisi domestiknya sendiri.
Dalam konteks ini, diplomasi luar negeri bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk memperkuat pembangunan nasional.
Kunjungan luar negeri Presiden akan memiliki legitimasi yang kuat apabila menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.


Komentar