Daerah
Beranda » Berita » Dari FYP ke Keyakinan: Algoritma Bentuk Pilihan Politik Gen Z di Jakarta

Dari FYP ke Keyakinan: Algoritma Bentuk Pilihan Politik Gen Z di Jakarta

Dari FYP ke Keyakinan: Algoritma Bentuk Pilihan Politik Gen Z di Jakarta
Dari FYP ke Keyakinan: Algoritma Bentuk Pilihan Politik Gen Z di Jakarta

Media Pendidikan – 16 April 2026 | Jakarta – Pada 2024, sebuah laporan yang ditulis oleh Ignatius Dimie mengulas bagaimana algoritma pada platform media sosial memengaruhi preferensi politik generasi Z di Indonesia. Artikel yang dipublikasikan di jakarta.jpnn.com dengan kode 2711 menyoroti pergeseran signifikan dari sekadar konsumsi konten hiburan di halaman “For You Page” (FYP) menjadi landasan keyakinan politik yang lebih mendalam.

Penelitian yang dibahas dalam laporan tersebut mengungkap bahwa algoritma personalisasi, yang menyesuaikan konten berdasarkan interaksi pengguna, secara tidak sadar menata ruang diskusi politik bagi kaum muda. Di Jakarta, mayoritas Gen Z menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di aplikasi seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Algoritma menampilkan video‑video yang selaras dengan minat sebelumnya, sehingga memperkuat sudut pandang tertentu dan mengurangi eksposur pada pandangan berlawanan.

Baca juga:

Pengaruh Algoritma pada Dinamika Politik

Data yang diambil dari survei internal platform menunjukkan bahwa 57% responden Gen Z di Jakarta mengaku bahwa rekomendasi video memengaruhi cara mereka memandang isu politik terkini. Selain itu, 42% menyatakan bahwa mereka lebih cenderung mengikuti akun yang sejalan dengan pandangan mereka, memperkuat efek homogenisasi pemikiran.

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada satu platform. TikTok, dengan FYP‑nya yang sangat terkurasi, menjadi contoh utama. Algoritma TikTok mengandalkan sinyal interaksi—seperti suka, komentar, dan durasi tonton—untuk menyesuaikan aliran video. Ketika sebuah video politik mendapatkan respon positif, sistem akan menampilkannya kepada lebih banyak pengguna dengan profil serupa, memperluas jangkauan pesan tersebut secara eksponensial.

Baca juga:

Peneliti media sosial di Universitas Indonesia menambahkan bahwa mekanisme ini dapat mempercepat polarisasi politik, terutama bila disertai dengan penyebaran berita palsu. “Algoritma bukan sekadar alat teknis, melainkan agen sosial yang membentuk realitas politik generasi Z,” ujar salah satu akademisi dalam diskusi yang dihadirkan oleh penulis.

Namun, tidak semua dampak bersifat negatif. Algoritma juga dapat menjadi sarana edukasi politik bila diarahkan untuk menampilkan konten informatif dan berimbang. Beberapa inisiatif pemerintah daerah di Jakarta mulai berkolaborasi dengan platform untuk menyisipkan materi edukatif tentang proses demokrasi dalam rekomendasi konten.

Baca juga:

Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan pentingnya pemahaman kritis terhadap algoritma bagi generasi muda. Dengan mengidentifikasi pola rekomendasi, Gen Z dapat lebih selektif dalam mengonsumsi konten politik, menghindari bias yang tidak disadari, dan membangun pandangan yang lebih beragam.

Ke depan, pengawasan regulasi terhadap transparansi algoritma dan upaya literasi digital menjadi langkah krusial untuk menjaga kualitas demokrasi di era digital. Laporan Ignatius Dimie menjadi panggilan bagi pembuat kebijakan, platform digital, dan masyarakat untuk meninjau kembali peran algoritma dalam lanskap politik Indonesia.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *