Media Pendidikan – 12 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Pada hari Rabu, analis politik senior Boni Hargens menggelar acara peluncuran buku terbarunya berjudul “Ilmu Politik” di sebuah hotel terkemuka di pusat kota. Acara tersebut tak hanya menjadi panggung bagi penjelasan konsep-konsep politik yang diangkat dalam buku, tetapi juga menjadi momen bagi Hargens menanggapi pernyataan provokatif Saiful Mujani, pendiri Sekolah Media dan Riset Cerdas (SMRC), yang mengusulkan upaya “menjatuhkan” serta menggalang kekuatan melawan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Peluncuran buku yang diprakarsai oleh penerbit nasional ini dihadiri oleh sejumlah akademisi, praktisi politik, serta wartawan. Dalam sambutannya, Hargens menegaskan bahwa buku “Ilmu Politik” ditujukan untuk memberi landasan teoritis dan praktis bagi generasi muda yang ingin memahami dinamika kekuasaan di Indonesia. Ia menambahkan bahwa penulisan buku tersebut berlandaskan pada riset empiris selama lima tahun terakhir, mencakup lebih dari 200 wawancara dengan tokoh politik lintas partai.
Respons terhadap Saiful Mujani
Setelah sesi tanya jawab, Hargens beralih ke topik yang tengah menggelitik publik, yakni pernyataan Saiful Mujani yang baru-baru ini muncul di media sosial. Mujani menyarankan agar warga negara mengorganisir diri untuk “menjatuhkan” pemerintah Prabowo, sebuah sikap yang dianggapnya sebagai langkah politik radikal. Menanggapi hal tersebut, Hargens menyatakan, “Pernyataan tersebut tidak mencerminkan realitas politik saat ini dan justru dapat memperdalam polarisasi di tengah masyarakat.” Ia menegaskan pentingnya dialog konstruktif, bukan aksi konfrontatif, dalam menyelesaikan perbedaan kebijakan.
Hargens juga menyoroti bahwa buku “Ilmu Politik” memaparkan mekanisme checks and balances yang seharusnya menjadi pedoman bagi semua pihak, termasuk aktivis dan partai politik. Menurut data yang diuraikannya, selama masa pemerintahan Prabowo Subianto, indeks demokrasi Indonesia mengalami peningkatan sebesar 2,3 poin pada indeks Freedom House, menunjukkan adanya ruang bagi partisipasi publik yang lebih luas.
Saiful Mujani, yang dikenal dengan kritik tajamnya terhadap kebijakan pemerintah, belum memberikan komentar resmi terkait respons Hargens. Namun, dalam pernyataan sebelumnya, Mujani menegaskan bahwa tujuan utama SMRC adalah mengedukasi masyarakat agar lebih kritis terhadap keputusan politik yang dianggap mengabaikan kepentingan rakyat.
Acara peluncuran berakhir dengan penandatanganan buku oleh penulis dan pembacaan kutipan pilihan dari halaman pertama, yang menekankan pentingnya ilmu politik sebagai alat analisis, bukan sekadar alat propaganda. Para hadirin memberikan tepuk tangan meriah, menandakan antusiasme terhadap kontribusi literatur politik baru ini.
Ke depan, Boni Hargens berencana menggelar serangkaian lokakarya di beberapa universitas ternama, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada, untuk memperdalam diskusi mengenai teori dan praktik politik. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi referensi utama bagi mahasiswa, peneliti, serta pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi yang lebih inklusif.


Komentar