Media Pendidikan – 10 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026 – Dalam pertemuan yang berlangsung hangat bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, kreator konten populer Ijoel menyampaikan kritik tajam mengenai kondisi fasilitas publik di ibu kota. Ijoel menegaskan bahwa pengelolaan sarana umum seharusnya dipantau secara berkelanjutan, alih-alih menunggu insiden menjadi viral di media sosial.
Kritik Utama Ijoel
Saat berdialog, Ijoel menyoroti sejumlah contoh fasilitas yang mengalami kerusakan atau kurang perawatan, seperti lampu jalan yang mati, halte bus yang rusak, dan taman kota yang tidak terawat. Ia menambah, “Kami tidak butuh viralitas untuk mengingatkan pemerintah. Seharusnya ada sistem monitoring yang proaktif, sehingga masalah dapat diidentifikasi dan ditangani sebelum menjadi sorotan publik.”
Reaksi Wakil Gubernur Rano Karno
Wakil Gubernur Rano Karno menanggapi dengan menyatakan bahwa pemerintahan DKI memang tengah mengembangkan platform digital untuk pemantauan fasilitas secara real‑time. Namun, ia mengakui bahwa implementasi masih menghadapi tantangan, termasuk koordinasi antar‑instansi dan respons cepat terhadap laporan warga.
Permintaan Tindakan Konkret
Ijoel menekankan pentingnya transparansi data dan partisipasi masyarakat dalam proses monitoring. Ia mengusulkan pembentukan tim khusus yang terdiri dari perwakilan pemerintah, ahli infrastruktur, serta aktivis komunitas digital. Tim ini diharapkan dapat melakukan inspeksi rutin, mengunggah data kondisi fasilitas ke portal terbuka, serta menyiapkan mekanisme perbaikan yang terukur.
Selain itu, Ijoel mengingatkan bahwa banyak fasilitas publik di Jakarta sudah mencapai usia pakai yang lama, sehingga pemeliharaan preventif menjadi krusial. Ia mengajak semua pihak, termasuk warga, untuk melaporkan kerusakan melalui aplikasi resmi, bukan hanya menunggu insiden menjadi viral.
Implikasi bagi Kebijakan Publik
Seruan Ijoel menambah tekanan pada pemerintah provinsi untuk mempercepat digitalisasi layanan publik. Jika diterapkan, sistem monitoring yang terintegrasi dapat menurunkan biaya perbaikan jangka panjang, meningkatkan kepuasan warga, serta mengurangi ketergantungan pada sorotan media sosial sebagai pemicu tindakan.
Dengan menaruh fokus pada pemantauan berkelanjutan, Jakarta berpotensi menjadi contoh kota megah yang mengedepankan efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan fasilitas umum. Kritik Ijoel, meski disampaikan dengan gaya khasnya yang blak‑blakan, membuka ruang dialog konstruktif antara pemerintah, kreator digital, dan masyarakat luas.
Harapan ke depan adalah terbentuknya mekanisme monitoring yang solid, sehingga perbaikan fasilitas publik tidak lagi bergantung pada viralitas, melainkan pada data akurat dan respons cepat.


Komentar