Media Pendidikan – 24 Juni 2026 | Kita telah sampai pada satu titik neurosis sosial yang ganjil, di mana kita lebih percaya pada keabsahan selembar meterai daripada kata-kata yang kita ucapkan. Ketergantungan ini merupakan pengakuan yang tragis atas runtuhnya moralitas. Kita sedang mengalami alienasi nurani, di mana kebenaran dipindahkan dari dalam dada ke atas kertas berbayar.
Sebagai contoh, ketika kita membuat kesepakatan, kita lebih fokus pada keabsahan dokumen daripada niat yang tulus. Kita bertanya, “Apakah dokumen ini sudah aman secara hukum?” daripada “Seberapa jernih niat saya untuk menepatinya?” Ini menunjukkan bahwa kita telah kehilangan kompas moral internal dan menganggap kebenaran sebagai urusan administrasi belaka.
Untuk menyembuhkan diri dari kutukan ketidakpercayaan ini, kita harus merebut kembali keluhuran kata-kata kita. Kita harus menegakkan batas moral yang tak boleh ditawar oleh urusan selembar kertas. Sebagai langkah pertama, kita harus merayakan kembali “Sumpah Sunyi” (Inner Commitment) sebelum membubuhkan tanda tangan di atas meterai.
Langkah kedua, kita harus mengubah cara kita mengukur bobot sebuah kesepakatan. Kita harus bertanya, “Seberapa jernih niat saya untuk menepatinya?” daripada “Apakah dokumen ini sudah aman secara hukum?” Kita harus memiliki ketegasan intelektual untuk membatalkan kontrak-kontrak yang akan merampas kedamaian tidur kita karena mengorbankan nurani.


Komentar