Media Pendidikan – 23 April 2026 | JAKARTA, REPUBLIKA.CO.ID — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan pentingnya peran perempuan dalam membangun fondasi literasi anak sejak usia dini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang diadakan pada Senin (12/04/2024) di Gedung Badan Bahasa, Jakarta.
Program yang diluncurkan Badan Bahasa mencakup pelatihan literasi berbasis rumah tangga, penyediaan materi bacaan sederhana, serta kampanye media sosial yang menyoroti kisah sukses ibu yang berhasil menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak-anak mereka. Kegiatan ini juga melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada pemberdayaan perempuan, sehingga tercipta sinergi antara kebijakan pemerintah dan inisiatif komunitas.
Data internal Badan Bahasa mengindikasikan bahwa sebagian besar anak pertama kali belajar membaca di rumah, terutama dari ibu. Hal ini memperkuat argumen bahwa memperkuat kapasitas perempuan dalam hal literasi akan berdampak langsung pada peningkatan tingkat kemampuan membaca nasional. Sebagai contoh, pada program pilot yang dilaksanakan di tiga provinsi pada tahun 2023, terjadi peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca anak usia 5 hingga 6 tahun yang dibimbing oleh orang tua perempuan.
Selain pelatihan, Badan Bahasa juga menyediakan paket buku bergambar berbahasa Indonesia yang dirancang khusus untuk anak prasekolah. Paket tersebut didistribusikan secara gratis kepada keluarga berpendapatan rendah melalui Dinas Pendidikan daerah, dengan harapan dapat menurunkan kesenjangan akses bahan bacaan.
“Kami berharap setiap ibu, baik yang bekerja maupun yang mengurus rumah, dapat memanfaatkan sumber daya ini untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak,” tambah Dr. Siti. Ia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor, termasuk sektor kesehatan, karena kesehatan anak yang baik menjadi prasyarat utama bagi proses belajar membaca.
Pemerintah juga berencana memperluas jangkauan program ini ke seluruh wilayah Indonesia dalam dua tahun ke depan. Targetnya adalah meningkatkan persentase anak yang memiliki kemampuan membaca dasar pada usia tujuh tahun menjadi di atas 80 persen, dengan perempuan sebagai pilar utama pelaksanaan kebijakan.
Upaya Badan Bahasa ini sejalan dengan agenda nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan menurunkan angka buta huruf. Dengan menempatkan perempuan di garis depan, diharapkan generasi mendatang akan tumbuh dengan kemampuan literasi yang kuat, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan sosial.


Komentar