Media Pendidikan – 16 April 2026 | JAKARTA, JPNN.com – Sejumlah tokoh aktivis nasionalis, pemuka agama Islam, serta purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara resmi mengumumkan keanggotaan mereka dalam Gerakan Kebangsaan Selamatkan Indonesia (GAKSI). Deklarasi ini menegaskan komitmen bersama untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai pengkhianat konstitusi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah rapat tertutup yang dihadiri oleh perwakilan berbagai organisasi aktivis, tokoh Islam, dan veteran militer. Dalam sambutannya, para peserta menegaskan bahwa kondisi politik dan konstitusional negara saat ini memerlukan tindakan kolektif yang tegas. Salah satu aktivis menyatakan, “Kami bergabung dalam GAKSI untuk melawan pengkhianat konstitusi dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
GAKSI, yang merupakan singkatan dari Gerakan Kebangsaan Selamatkan Indonesia, diluncurkan pada awal tahun ini dengan tujuan menggalang dukungan lintas sektoral demi mempertahankan nilai‑nilai Pancasila serta konstitusi yang berlaku. Bergabungnya kalangan aktivis, tokoh Islam, dan purnawirawan TNI menambah legitimasi serta kapasitas gerakan ini dalam melaksanakan aksi-aksi konkret.
Kombinasi latar belakang yang beragam menciptakan sinergi strategis. Aktivis nasionalis memberikan basis massa dan jaringan sosial, tokoh Islam menambah dimensi moral serta dukungan komunitas keagamaan, sementara purnawirawan TNI menyumbangkan keahlian militer dan disiplin organisasi. Menurut data yang dirilis oleh koordinator GAKSI, partisipasi purnawirawan mencapai sekitar 30 persen dari total anggota baru, menunjukkan besarnya kepercayaan veteran terhadap tujuan gerakan.
Gerakan ini menargetkan apa yang mereka anggap sebagai upaya subversif terhadap konstitusi, termasuk tindakan politik yang dianggap merusak tatanan hukum dasar negara. GAKSI menegaskan bahwa perlawanan tidak bersifat kekerasan semata, melainkan mencakup kampanye advokasi, penyuluhan publik, serta pengawasan terhadap kebijakan publik yang berpotensi menodai konstitusi.
Sejumlah daerah strategis di Indonesia, termasuk ibu kota Jakarta, telah menjadi titik fokus kegiatan GAKSI. Tim lapangan dilaporkan telah melakukan pemetaan terhadap jaringan yang dianggap berisiko, serta menyusun rencana aksi yang melibatkan dialog terbuka dengan lembaga legislatif dan eksekutif. Pada fase awal, GAKSI menargetkan peningkatan kesadaran publik melalui media sosial dan forum komunitas, dengan harapan dapat menggalang dukungan luas.
Reaksi pemerintah terhadap deklarasi ini belum secara resmi dipublikasikan. Namun, pengamat politik menyatakan bahwa kehadiran tokoh veteran militer dalam gerakan sipil dapat memperkuat posisi GAKSI di mata publik, sekaligus menimbulkan tantangan bagi aparat keamanan dalam menanggapi aksi-aksi potensial.
Ke depannya, GAKSI berencana mengadakan serangkaian pertemuan nasional untuk mengkoordinasikan langkah-langkah strategis serta memperluas jaringan aktivis di seluruh provinsi. Organisasi tersebut menegaskan komitmennya untuk tetap mengedepankan proses demokratis, menghindari konflik bersenjata, dan menegakkan supremasi konstitusi sebagai landasan utama perjuangan.


Komentar