Media Pendidikan – 01 Juni 2026 | Rahimun M Said, mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, mengkritisi kinerja dua tahun Senator asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid. Menurutnya, demokrasi tidak dibangun di atas tepuk tangan, melainkan di atas pertanyaan-pertanyaan yang berani.
Karena itu, tidak ada yang salah ketika rakyat NTB mulai bertanya: setelah memperoleh kepercayaan ratusan ribu suara pada Pemilu 2024, sejauh mana Senator Mirah Midadan Fahmid telah menghadirkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat?
Pertanyaan ini penting karena dalam politik modern, citra sering kali bergerak lebih cepat daripada hasil kerja. Publik disuguhi foto kegiatan, kunjungan kerja, forum diskusi, pertemuan dengan berbagai pihak, hingga publikasi yang hampir setiap hari menghiasi media sosial.
Namun, ukuran keberhasilan seorang wakil rakyat tidak pernah ditentukan oleh banyaknya pemberitaan. Yang menjadi ukuran adalah perubahan nyata yang dirasakan rakyat yang telah memilihnya. “Masyarakat NTB saat ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Harga kebutuhan pokok yang tidak selalu stabil, tantangan pendidikan, akses kesehatan yang belum merata, lapangan pekerjaan yang terbatas, hingga pembangunan daerah yang masih membutuhkan perhatian serius,” ungkap Rahim.
“Rakyat yang kritis bukan ancaman bagi demokrasi. Rakyat yang diam justru menjadi ancaman bagi masa depan daerahnya,” tambahnya.


Komentar