Media Pendidikan – 28 Juni 2026 | Cerpen “Gadis Pendoa” karya Tara Febriani Khaerunnisa menyeret pembaca ke dalam ruang keyakinan yang telah kehilangan esensinya. Cerpen ini membahas tentang doa yang kehilangan makna dan kondisi kemiskinan yang membuat orang tidak percaya diri.
Benturan itu hadir paling telanjang dalam percakapan Mila dengan ibunya. Ketika Mila bersikukuh ingin kembali merawat warga desa seberang, sang Ibu memotong dengan keyakinan yang keras:
'Manusia tidak bisa merawat manusia lain untuk sembuh. Hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan manusia. Kau tidak harus mengikuti kegiatan organisasi konyol itu lagi untuk merasa berguna. Jadilah gadis pendoa agar kau bisa menyembuhkan orang-orang.'
Kata 'konyol' dalam kalimat itu bukan sekadar ekspresi kekecewaan seorang ibu. Ia adalah peta dari seluruh sistem kepercayaan yang dibangun keluarga Mila: bahwa tindakan nyata manusia untuk menolong sesama adalah hal yang sia-sia, bahkan memalukan, dibandingkan ritual doa yang dianggap langsung terhubung ke kuasa ilahi.
Tema minor yang paling menggigit dalam cerpen ini adalah keputusasaan yang akhirnya berubah menjadi sinisme dan amarah yang disalurkan lewat doa. Jika di awal cerpen doa masih menjadi ruang harapan, maka menjelang akhir cerita doa telah menjelma menjadi wadah kemarahan kolektif yang tidak tahu harus pergi ke mana.
Cerpen ini tidak hanya bercerita tentang satu keluarga di satu desa. Ia berbicara tentang kondisi di mana kemiskinan membuat orang tidak punya pilihan selain menyerahkan nasibnya pada ritual, di mana doktrin digunakan untuk meredam pertanyaan, dan di mana anak-anak perempuan dijadikan alat produksi spiritual demi menghidupi keluarga yang terjepit.


Komentar