Media Pendidikan – 19 Juni 2026 | Ilustrasi Fir’aun .Foto generated by AI Jika kepada Firaun saja Nabi Musa dan Harun diperintahkan untuk berbicara dengan santun namun tegas tanpa kalimat merendahkan, maka sudah sepatutnya dalam konteks berbangsa dan bernegara di tanah air, kita mengedepankan komunikasi yang beradab demi menjaga persatuan.
Pernyataan Ketua Umum MUI tersebut sesungguhnya mengandung pesan yang baik. Dalam ruang demokrasi yang sering dipenuhi kemarahan, ejekan, dan polarisasi, ajakan untuk menjaga adab dalam menyampaikan kritik adalah sesuatu yang patut dihargai. Tidak ada demokrasi yang sehat tanpa etika publik.
Namun persoalan tidak berhenti di sana. Ketika pernyataan itu beredar luas, muncul pertanyaan yang juga tidak bisa dianggap remeh: jika Nabi Musa diperintahkan berbicara santun kepada Firaun, apakah analogi tersebut mengandung makna bahwa ada pihak yang sedang diposisikan sebagai Firaun?
Sebagian orang kemudian menjawab dengan argumentasi bahwa Firaun bukanlah nama orang, melainkan gelar penguasa Mesir Kuno. Secara sejarah, penjelasan itu benar. Tetapi justru di situlah masalahnya. Publik tidak sedang memperdebatkan sejarah Mesir Kuno.
Publik sedang membahas makna. Dalam tradisi Islam, Firaun memang merupakan gelar. Akan tetapi sejarah dan agama telah memberi makna yang jauh lebih besar daripada sekadar jabatan. Ketika kata Firaun disebut, yang muncul dalam ingatan kolektif umat bukanlah struktur pemerintahan Mesir Kuno, melainkan simbol kesombongan kekuasaan, penolakan terhadap kebenaran, dan ketidakmauan mendengar kritik.
Karena itu, menjawab kegelisahan masyarakat hanya dengan mengatakan bahwa Firaun adalah gelar berpotensi menggeser substansi persoalan. Pertanyaan publik bukan soal terminologi. Pertanyaannya sederhana: mengapa simbol Firaun dipilih? Dan pesan apa yang sebenarnya ingin ditegaskan melalui simbol tersebut?
Setiap simbol membawa konsekuensi makna. Ketika seseorang mengutip kisah Musa dan Firaun, publik tidak mungkin hanya membaca bagian tentang kesantunan berbicara. Publik juga akan membaca seluruh konteks moral yang melekat pada kisah itu. Itulah sifat sebuah simbol. Ia tidak datang sendirian. Ia membawa sejarah, nilai, dan asosiasi yang telah hidup selama berabad-abad.
Di sinilah pentingnya kejelasan dalam komunikasi publik. Sebab yang dibutuhkan masyarakat bukan permainan definisi untuk meredakan perdebatan, melainkan penjelasan yang jernih mengenai maksud sebuah pernyataan. Ketika ruang publik dipenuhi tafsir yang beragam, klarifikasi sering kali lebih bermanfaat daripada perdebatan tentang istilah.
Filsuf politik Inggris, Lord Acton, pernah mengingatkan bahwa kekuasaan cenderung disalahgunakan dan kekuasaan absolut cenderung disalahgunakan secara absolut. Sementara dalam tradisi Islam, kisah Firaun menjadi salah satu contoh paling kuat tentang bahaya ketika kekuasaan tidak lagi memiliki kemampuan untuk mendengar kebenaran dari luar dirinya.
Namun kisah Musa dan Firaun juga mengandung pelajaran lain yang sering terlupakan. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut. Artinya, kebenaran tidak harus disampaikan dengan penghinaan. Kritik tidak harus berubah menjadi kebencian. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir pada permusuhan.
Pesan inilah yang semestinya menjadi titik temu. Rakyat memiliki hak untuk menyampaikan kritik. Demonstrasi adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Pada saat yang sama, para pemegang kekuasaan juga memiliki kewajiban moral untuk mendengarkan suara yang datang dari masyarakat. Kritik tanpa adab dapat kehilangan daya gugahnya. Tetapi kekuasaan yang menolak kritik juga sedang kehilangan kompasnya.
Persoalan terbesar bangsa ini bukan menemukan siapa Firaun hari ini. Persoalan terbesar bangsa ini adalah memastikan bahwa sifat fir’auniyah tidak tumbuh dalam diri siapa pun, baik pada mereka yang memegang kekuasaan maupun pada mereka yang merasa paling benar ketika mengkritik kekuasaan.
Karena itu, diskusi tentang pernyataan tersebut seharusnya tidak berhenti pada soal apakah Firaun adalah nama atau gelar. Itu adalah fakta sejarah yang relatif sederhana. Yang jauh lebih penting adalah memahami mengapa simbol Firaun dihadirkan dalam percakapan publik dan bagaimana masyarakat menafsirkan simbol tersebut.
Demokrasi yang matang tidak dibangun oleh masyarakat yang diam. Tetapi demokrasi juga tidak dibangun oleh kekuasaan yang anti-kritik. Kisah Musa dan Firaun mengajarkan keduanya sekaligus: keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan kerendahan hati untuk mendengarkannya.
Sebab pada akhirnya, masalah terbesar dalam sebuah bangsa bukan ketika kritik terdengar terlalu keras. Masalah terbesar justru dimulai ketika tidak ada lagi yang berani berbicara, atau ketika tidak ada lagi yang bersedia mendengar.


Komentar