Nasional
Beranda » Berita » Petani Waspadai Penurunan Produksi saat Puncak Kemarau 2026

Petani Waspadai Penurunan Produksi saat Puncak Kemarau 2026

Petani Waspadai Penurunan Produksi saat Puncak Kemarau 2026
Petani Waspadai Penurunan Produksi saat Puncak Kemarau 2026

Media Pendidikan – 18 Juni 2026 | RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dari normal. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan produksi pangan nasional.

Petani di sejumlah daerah mulai melaporkan dampak kekeringan sejak Mei 2026. Tanaman padi menjadi komoditas paling rentan karena membutuhkan pasokan air lebih banyak dibanding komoditas lainnya.

Baca juga:

Kepala Badan Pengkajian Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Pusat SPI, Kusnan, mengatakan bahwa laporan kekeringan telah diterima dari NTT, NTB, sebagian Pulau Jawa, dan Sumatera. SPI juga mengantisipasi dampak kemarau melalui penerapan agroekologi dan diversifikasi tanaman.

Para petani didorong menanam jagung, singkong, ubi jalar, dan sorgum. Tanaman tersebut dinilai lebih tahan terhadap cuaca panas dan kekeringan.

Baca juga:

Penyeluh Pertanian Ahli Utama Pusluhtan Kementan, Prof. Deddy Nursyamsi, mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi. Fokus utama diarahkan pada penyediaan air bagi lahan pertanian. Kementerian Pertanian memperkuat program irigasi suplementer melalui pompanisasi, perpipaan, embung, dan dam parit.

Program tersebut diprioritaskan di wilayah yang berisiko tinggi mengalami kekeringan. Selain irigasi, pemerintah mendorong penggunaan varietas tahan kekeringan dan pemupukan berimbang. Langkah itu dilakukan untuk menjaga produksi pangan dan mendukung ketahanan pangan nasional selama musim kemarau 2026.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *