Media Pendidikan – 04 Juni 2026 | Ojek online (ojol) tetap menjadi salah satu penopang penting ekonomi digital Indonesia. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional terus meningkat melalui berbagai layanan berbasis aplikasi.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyebut sektor ini berperan besar. Kehadirannya menjadi alternatif sumber pendapatan saat lapangan kerja formal masih terbatas.
‘Kami menghitung tenaga kerja yang tercipta dari ekosistem ojol mencapai sekitar 5,5 juta orang. Kehadirannya mendukung perkembangan ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat,’ ujar Rizal.
‘Ekonomi digital menjadi ruang baru untuk memberikan kontribusi terhadap nilai tambah ekonomi. Pemerintah perlu menjaga dan mengembangkan ekosistem ini secara berkelanjutan,’ ujarnya.
Namun, di balik besarnya kontribusi ekonomi tersebut, kesejahteraan pengemudi masih menjadi perhatian. Pendapatan pengemudi dinilai mengalami penurunan dibanding beberapa tahun lalu.
Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengungkapkan kondisi tersebut. Ia menyebut persaingan dan potongan aplikasi memengaruhi penghasilan pengemudi.
‘Pada 2016 pendapatan pengemudi bisa mencapai sekitar Rp5 juta per bulan. Kini rata-rata hanya sekitar Rp3 juta bahkan ada yang lebih rendah,’ ujar Igun.
Ia menilai persoalan paling mendesak adalah besarnya potongan biaya aplikasi. Menurutnya, kondisi itu mengurangi pendapatan yang diterima pengemudi setiap hari.
‘Kami menemukan potongan aplikasi bisa mencapai hampir 50 persen. Itu yang paling besar menurunkan pendapatan pengemudi saat ini,’ katanya.
Meski demikian, Igun menegaskan ojol masih menjadi sumber penghidupan banyak masyarakat. Sektor ini juga membantu menyerap tenaga kerja di tengah tantangan ekonomi nasional.


Komentar