Media Pendidikan – 04 Juni 2026 | Pemerintah mempercepat program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di 30 lokasi, mencakup 61 kabupaten dan kota untuk mengatasi persoalan sampah nasional. Program ini juga ditujukan untuk mendukung transisi energi dan pengembangan ekonomi sirkular. Menurut Prof. Prabang Setiono, pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret, perkembangan PSEL berjalan sesuai rencana, namun masih terkendala masalah teknis, terutama masalah pemilahan sampah.
“Ya, yang jelas, perkembangan PSEL ini sebenarnya progress ya, ‘on the track’. Hanya kendala-kendala teknis ya, kendala-kendala teknis kalau saya mengatakan, sebenarnya secara teknologi sudah selesai, secara teori konsep sudah selesai. Sekarang adalah kendala-kendala teknis,” kata Prof. Prabang.
Prof. Prabang menjelaskan bahwa teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik sudah terbukti dapat digunakan, namun tantangan terbesar berada pada kualitas bahan baku sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan. Ia menekankan bahwa sampah seharusnya dipilah sejak sumbernya agar lebih homogen, sehingga dapat mengurangi kebutuhan energi selama proses pengolahan.
Saat ini, fasilitas PSEL yang telah beroperasi berada di Solo dan Surabaya, namun kedua fasilitas tersebut belum mencapai kapasitas optimal. Prof. Prabang menambahkan bahwa Singapura dan Thailand dapat menjadi contoh pengelolaan sampah yang berhasil, karena mereka menerapkan pemilahan sampah secara disiplin sejak dari sumbernya.


Komentar