Media Pendidikan – 19 Mei 2026 | Delegasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengunjungi berbagai institusi di Vatikan pada Selasa (5/5) lalu. Dalam kunjungan tersebut, mereka bertemu langsung dengan jajaran tertinggi Gereja Katolik Roma untuk membangun kemitraan strategis di berbagai bidang. Hasilnya, muncul kesepakatan untuk membentuk koalisi organisasi keagamaan lintas tradisi yang bertujuan menyuarakan perdamaian dunia serta mendorong penghentian perang ekonomi yang dinilai menjadi pemicu krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Kardinal George Jacob Koovakad, Menteri Dialog Antar Agama, didampingi Sekretaris Dicastery for Interreligious Dialogue, Markus Solo, menyampaikan perlunya gerakan bersama untuk menghentikan perang ekonomi di seluruh belahan dunia yang menimbulkan penderitaan umat manusia, termasuk anak-anak dan perempuan. Rektor UMY, Achmad Nurmandi, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Kardinal Koovakad berulang kali menekankan pentingnya perjuangan bersama antar umat beragama.
Sebagai tindak lanjut, Muhammadiyah dan Vatikan sepakat membentuk tim perumus yang terdiri atas lima orang dari pihak Muhammadiyah untuk menyusun Memorandum of Understanding (MoU). Dokumen tersebut akan menjadi payung bagi berbagai program bersama lintas negara yang berlandaskan Deklarasi Istiqlal 2024 dengan dua agenda utama, yakni humanisasi dan pendidikan. Kolaborasi ini disebut menjadi yang pertama secara formal antara Negara Vatikan dan organisasi Islam di Indonesia.
Sekretaris Universitas UMY, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan keistimewaan kolaborasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Vatikan telah banyak kerjasama dengan ormas keagamaan di seluruh dunia, tapi dengan ormas keagamaan Indonesia belum ada secara formal. Oleh karena itu, Vatikan antusias menggandeng Muhammadiyah secara khusus, karena Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia dan Muhammadiyah organisasi Islam terbesar di Indonesia itu punya peran.


Komentar