Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Harga minyak kembali meluncur ke bawah pada Rabu (6/5) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan adanya kemajuan signifikan dalam rangka mencapai kesepakatan akhir yang dapat menghentikan konflik dengan Iran. Penurunan tersebut menurunkan harga West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$100 per barel dan menurunkan Brent ke US$110 per barel.
Pergerakan Harga dan Faktor Geopolitik
Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, harga Brent sempat melambung lebih dari 50 persen akibat gangguan pasokan dari Teluk Persia. Saat ini, aliran minyak masih terhambat oleh dua blokade: Iran menutup pelayaran, sementara Amerika Serikat menutup akses ke pelabuhan Iran.
Langkah Diplomatik dan Militer
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa operasi militer “Operation Epic Fury” telah selesai. Ia menegaskan, “Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut,” menandakan penurunan intensitas militer di wilayah tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menambahkan bahwa gencatan senjata yang dimulai hampir sebulan lalu masih berlaku, dan Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menegaskan bahwa serangan Iran terhadap kapal di Teluk Persia dan Uni Emirat Arab tidak dianggap melanggar gencatan senjata.
Dampak pada Pasar dan Stok Minyak
Data industri AS menunjukkan penurunan stok minyak mentah sebesar 8,1 juta barel dalam pekan terakhir. Analis Enverus, Carl Larry, mencatat bahwa pasar kini didominasi aksi ambil untung, “Kita melihat pola dari reli ke aksi ambil untung setiap hari. Pasar mungkin terlihat tenang, tapi euforia berlebihan sering kali berakhir buruk. Penurunan stok biasanya menarik minat investor bullish,” ujarnya.
Gangguan di Selat Hormuz tetap memberi tekanan pada logistik; lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 awak terperangkap di kawasan tersebut. Sementara itu, minat terbuka (open interest) kontrak Brent jatuh ke level terendah sejak Agustus 2025, mencerminkan sikap hati‑hati pelaku pasar.
Langkah Saudi dan Prospek Kedepan
Arab Saudi mengumumkan penurunan harga jual minyak mentah utama untuk pasar Asia pada bulan depan, meski harga tetap tinggi karena konflik Timur Tengah masih mengganggu pasokan global. Dengan sinyal diplomatik yang semakin positif, para pelaku pasar menunggu konfirmasi lebih lanjut mengenai stabilitas regional sebelum mengambil posisi jangka panjang.
Secara keseluruhan, penurunan harga minyak pada hari ini mencerminkan kombinasi antara sinyal damai antara AS dan Iran serta aksi ambil untung di pasar. Jika negosiasi berlanjut dan blokade di Selat Hormuz dapat dilonggarkan, peluang pemulihan harga minyak tetap terbuka, namun volatilitas tetap menjadi perhatian utama.


Komentar