Daerah
Beranda » Berita » Demo Kantor Gubernur Kaltim Ricuh, 5 Polisi Luka dan Polwan Pingsan

Demo Kantor Gubernur Kaltim Ricuh, 5 Polisi Luka dan Polwan Pingsan

Demo Kantor Gubernur Kaltim Ricuh, 5 Polisi Luka dan Polwan Pingsan
Demo Kantor Gubernur Kaltim Ricuh, 5 Polisi Luka dan Polwan Pingsan
Daftar Isi

Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Pada Selasa 5 Mei 2026, aksi demonstrasi mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur berujung ricuh, menewaskan lima anggota kepolisian luka dan satu polwan pingsan.

PMII menggelar aksi tersebut untuk menuntut transparansi kebijakan serta pengelolaan aset daerah. Demonstran berupaya menyampaikan aspirasi mereka secara damai, namun situasi berubah ketika terjadi lemparan batu dari massa ke arah aparat.

Baca juga:

Kronologi Kejadian

Polresta Samarinda menyiagakan sekitar 250 personel Polri yang dibantu Satpol PP dan unsur lain, sehingga total tenaga keamanan mencapai sekitar 400 orang. Tim keamanan awalnya menerapkan pendekatan persuasif, namun aksi saling lempar barang keras memicu bentrokan.

Kompol Zarma, Kepala Bagian Operasi Polresta Samarinda, melaporkan bahwa seorang polwan terkena lemparan batu hingga pingsan dan mulutnya mengeluarkan darah. Ia berkata, “Ada polwan yang terkena lemparan hingga sempat pingsan.” Selain itu, lima anggota kepolisian lainnya mengalami luka, antara lain luka robek di wajah dan tubuh akibat benda keras yang dilemparkan.

Baca juga:

Tiga polisi sempat ditarik ke dalam kerumunan massa dan mengalami kekerasan fisik. Zarma menegaskan bahwa semua yang terluka telah mendapatkan perawatan medis di Polres, dan tidak ada yang mengalami luka berat.

Ketua Umum PKC PMII Kalimantan Timur, Muhammad Said Abdillah, mengakui adanya kericuhan dalam aksi tersebut. Ia menyampaikan bahwa empat kader PMII juga mengalami luka, dengan satu di antaranya harus dijahit di bagian kepala.

Baca juga:

Setelah insiden, situasi di sekitar Kantor Gubernur Kaltim perlahan kembali kondusif. Aparat keamanan tetap berjaga untuk mengantisipasi kemungkinan demonstrasi susulan, sementara pihak provinsi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden.

Kejadian ini menambah catatan ketegangan antara aparat keamanan dan kelompok mahasiswa di wilayah tersebut, menegaskan pentingnya dialog terbuka guna mencegah eskalasi serupa di masa depan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *